Nyeri Berkurang dalam 15 Menit: Mahasiswa PSIK UGM Hadirkan Terapi Sujok di RSUP Dr. Sardjito

Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan layanan terapi komplementer Sujok di RSUP Dr. Sardjito pada Senin (2/3). Kegiatan ini merupakan bagian dari Pembelajaran di Luar Program Studi Program Magang Terapi Sujok (PLPS PMTS) dan melibatkan 23 mahasiswa sebagai terapis. Kegiatan ini akan rutin dilaksanakan setiap Senin sampai bulan Mei 2026.

Kegiatan ini didampingi oleh Koordinator PLPS PMTS, Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., MNSc., PhD (Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas), bersama Arifin Triyanto, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.MB dari Departemen Keperawatan Medikal Bedah. Pendampingan dilakukan untuk memastikan setiap tindakan terapi dilaksanakan sesuai prosedur dan standar praktik terapi komplementer.

Sebanyak 41 peserta yang terdiri dari satpam, cleaning service, tenaga kesehatan, aparatur sipil negara (ASN), dan kasir rumah sakit memanfaatkan layanan terapi tersebut. Sebagian besar datang dengan keluhan nyeri muskuloskeletal akibat aktivitas kerja sehari-hari.

Beberapa peserta menunjukkan respons yang cukup cepat terhadap terapi. Salah satunya adalah seorang satpam berusia 44 tahun yang datang dengan keluhan nyeri bahu selama dua bulan dengan skala nyeri 8 (0–10). Setelah stimulasi menggunakan teknik Sujok dengan probe, penempelan biji, serta terapi magnet dan Elastic Wire Colour and Tera-Wave Therapy (EWCT), skala nyeri menurun menjadi 5 dalam waktu sekitar 15 menit.

Kasus lain terjadi pada petugas cleaning service yang mengalami nyeri telapak kaki. Setelah terapi, skala nyeri menurun dari 4 menjadi 1. Respons terapi juga terlihat pada pasien lain dengan keluhan nyeri lengan atas, telapak tangan, hingga nyeri tulang belakang.

Mahasiswa lain juga menangani pasien dengan variasi keluhan. Seorang ASN perempuan usia 45 tahun datang dengan keluhan nyeri lengan atas dengan skala awal 8. Terapi dilakukan menggunakan probe pada titik triorigin yang merepresentasikan struktur tubuh J12 pada Su (tangan) kiri, disertai penempelan biji. Skala nyeri menurun menjadi 6 setelah 5 menit dan 5 setelah 15 menit.

Pasien lainnya, seorang kasir perempuan usia 32 tahun, mengeluhkan nyeri telapak tangan kanan dengan skala awal 8 yang menurun menjadi 6 pada menit ke-5 dan 5 pada menit ke-15 setelah terapi menggunakan probe dan biji pada titik triorigin J-13 Su (tangan) kiri. Pasien yang sama juga mengeluhkan nyeri tulang belakang dengan skala awal 9; setelah terapi pada basic correspondence Su (tangan) kanan, skala menurun menjadi 7 pada menit ke-5 dan bertahan hingga menit ke-15.

Selain memberikan manfaat bagi peserta, kegiatan ini juga menjadi pengalaman belajar yang bermakna bagi mahasiswa. Melalui interaksi langsung dengan pasien, mahasiswa dapat mengintegrasikan keterampilan asesmen, komunikasi terapeutik, identifikasi titik refleksi, serta evaluasi respons terapi secara langsung di lapangan.

Program ini turut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara mahasiswa, dosen, dan institusi pelayanan kesehatan.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman klinis autentik, tetapi juga berkontribusi memberikan manfaat nyata bagi lingkungan kerja rumah sakit.

(Kontributor: Ahmad Imami Tauhiedullah dan Adhara Stevian Maharani)

Facebook
LinkedIn
WhatsApp
Email
X
Facebook