Author: nursingugm

  • | |

    Mahasiswa Profesi Ners Laksanakan Penyuluhan Pengendalian Infeksi di RSUP Dr. Sardjito

    Mahasiswa Profesi Ners Program Studi Ilmu Keperawatan FK-KMK UGM stase Keperawatan Medikal Bedah melaksanakan kegiatan penyuluhan kesehatan terkait pengendalian infeksi di Ruang Dahlia 2 RSUP Dr. Sardjito pada Selasa (14/04/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi peran perawat edukator dalam meningkatkan keselamatan pasien dan keluarga di lingkungan rumah sakit.

    Penyuluhan berlangsung selama satu jam, mulai pukul 09.00 hingga 10.00 WIB, diikuti oleh 27 orang keluarga pasien. Materi yang disampaikan meliputi praktik cuci tangan yang baik dan benar sesuai standar 6 langkah, penggunaan masker yang tepat, etika batuk dan bersin, serta pemilahan limbah medis dan non-medis di bangsal perawatan.

    Kegiatan berlangsung dengan suasana yang interaktif dan penuh antusiasme. Para peserta aktif mengajukan berbagai pertanyaan, di antaranya terkait waktu yang tepat untuk melakukan cuci tangan serta jenis barang yang aman dibawa ke lingkungan rumah sakit. Hal ini menunjukkan tingginya kesadaran dan kepedulian keluarga pasien terhadap upaya pencegahan infeksi. Tidak hanya penyampaian materi, mahasiswa juga memberikan demonstrasi serta praktik bersama seluruh peserta. Peserta diajak untuk mempraktikkan teknik cuci tangan, penggunaan masker yang benar, serta memahami cara pemilahan limbah secara langsung. Untuk meningkatkan partisipasi, kegiatan ini juga disertai dengan pembagian doorprize kepada peserta.

    Dalam pelaksanaan kegiatan ini, mahasiswa menjalankan peran masing-masing secara terstruktur dan profesional. Ika Rumyati, S.Kep dan Rina Fatnawati, S.Kep bertindak sebagai pembawa acara dan moderator. Nur Daljito, S.Kep dan Faroq Zaeni, S.Kep bertanggung jawab pada bagian dokumentasi, sedangkan Aziz Syaifudin, S.Kep berperan sebagai pemateri utama dalam penyuluhan. Kegiatan ini juga dibawah bimbingan Bapak Anggi Lukman Wicaksana, S.Kep., Ns., MS. Ph.D dari Departemen Keperawatan Medikal Bedah FKKMK.

    Kegiatan ini juga sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Good Health and Well-being (kehidupan sehat dan sejahtera), Clean Water and Sanitation (air bersih dan sanitasi layak), dan Partnerships for the Goals (kemitraan untuk mencapai tujuan). Melalui edukasi pengendalian infeksi kepada masyarakat, mahasiswa turut berkontribusi dalam meningkatkan kualitas kesehatan serta mencegah penyebaran penyakit di lingkungan pelayanan kesehatan terutama di RSUP Dr. Sardjito. Selain itu, aspek pemilahan limbah juga mendukung tujuan SDGs lainnya terkait lingkungan yang sehat dan berkelanjutan.

    Melalui kegiatan ini, diharapkan terjadi peningkatan pengetahuan dan kesadaran keluarga pasien dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat selama berada di rumah sakit. Edukasi yang diberikan menjadi langkah penting dalam mendukung upaya pengendalian infeksi dan menciptakan lingkungan perawatan yang aman.

    Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi agenda rutin yang terus dikembangkan sebagai bentuk kontribusi nyata mahasiswa profesi keperawatan dalam pelayanan kesehatan, khususnya dalam aspek promotif dan preventif di rumah sakit.

    (Kontributor: Faroq Zaeni S.Kep; Nur Daljito S.Kep; Aziz Syaifudin Fathoni S.Kep; Rina Fatnawati S.Kep; Ika Rumyati S.Kep, Anggi Lukman Wicaksana, PhD)

  • | | |

    Edukasi Keluarga Memandikan Pasien Dengan Kelemahan Ekstremitas Sebagai Upaya Meningkatkan Perawatan Di Rumah yang Berkualitas

    Yogyakarta, 3 April 2026 – Sebagai upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3, yakni menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh penduduk di segala usia, mahasiswa Profesi Ners Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada melaksanakan kegiatan penyuluhan kesehatan sebagai bagian dari edukasi kesehatan berkelanjutan.

    Penyuluhan ini dilaksanakan pada hari Jumat, 3 April 2026.  Kegiatan tersebut berlangsung di Bangsal Anggrek 2 RSUP Dr. Sardjito dengan sasaran keluarga pasien. Kegiatan ini merupakan bagian dari Praktik Profesi Keperawatan Medikal Bedah (PPKMB). Topik utama penyuluhan kesehatan adalah keterampilan memandikan pasien dengan kelemahan ekstremitas di tempat tidur. Kegiatan penyuluhan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga pasien dalam memandikan pasien di rumah.

    Kegiatan dilakukan oleh empat mahasiswa profesi ners, yaitu Dela Anggraeni, Graciella Amariliza Stefani Yopi, Muhammad Azka Najhan, dan Nicodemus Saputra, dibawah bimbingan dosen Ibu Dr. Heny Suseani Pangastuti, S.Kp., M.Kes dari Departemen Keperawatan Medikal Bedah FK-KMK UGM dan Ibu Siti Nurjannah, S.Kep., Ns dari Bangsal Anggrek 2. Kegiatan berlangsung dimulai dari pre-test, penjelasan secara interaktif, demonstrasi memandikan pasien dengan benar, sesi tanya jawab, pembagian hadiah, dan penutup. Materi yang disampaikan meliputi manfaat kebersihan diri dengan memandikan pasien, mitos fakta mengenai kebersihan diri terkait dengan mandi, prinsip dasar perawatan diri, persiapan peralatan yang diperlukan, urutan memandikan pasien dengan benar, dan penyelesaian. Sesi demonstrasi dilaksanakan beriringan dengan penyampaian materi khususnya pada topik urutan memandikan pasien sebagai upaya memastikan pemahaman yang mendalam bagi seluruh peserta. Sesi tanya jawab berlangsung interaktif dengan beberapa pertanyaan yang disampaikan oleh peserta terkait pengalaman dalam memandikan pasien. Peserta juga mendapatkan media pembelajaran berupa leaflet yang dapat dibawa pulang. Seluruh peserta tampak antusias dan berpartisipasi aktif dalam setiap sesi.

    Penyuluhan ini secara khusus menargetkan keluarga pasien dengan kondisi kelemahan ekstremitas akibat gangguan neurologis. Kondisi ini sering kali membuat pasien mengalami keterbatasan mobilitas fisik yang meningkatkan ketergantungan terhadap bantuan orang lain dalam memenuhi aspek kebutuhan dasar khususnya kebersihan diri atau personal hygiene. Penyuluhan ini bukan hanya sekedar pemberian informasi melainkan juga sebagai bentuk pemberdayaan keluarga pasien agar memiliki rasa percaya diri dan keterampilan yang tepat dalam memberikan perawatan pada anggota keluarga terkasih, terutama pada aspek kebersihan diri yang berdampak langsung pada proses pemulihan kondisi dan kenyamanan pasien.

    Kegiatan penyuluhan yang melibatkan kolaborasi antara akademisi dan fasilitas kesehatan ini diharapkan dapat memperkecil kesenjangan pengetahuan antara tenaga medis dan keluarga.Dengan demikian, perawatan pasien secara holistik dapat terus berlanjut bahkan setelah pasien dinyatakan dapat rawat jalan. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat  meningkatkan kualitas hidup pasien pasca rawat inap dengan dukungan keluarga melalui penguatan pada aspek pengetahuan dan keterampilan.

     

    Kontributor: Dela Anggraeni; Graciella Amariliza Stefani Yopi; Muhammad Azka Najhan; Nicodemus Saputra

    Editor: Dr. Heny Suseani Pangastuti, S.Kp., M.Kes; Arifin Triyanto, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.MB

  • |

    Lowongan Magang Global Paro Commercial Partnership Intern

    GLOBAL PARO membuka kesempatan magang (Remote, Flexible) bagi rekan-rekan dengan kriteria:

    1. Mahasiswa akhir/Sarjana bisnis/ekonomi/marketing/kesehatan.
    2. Proaktif dan fokus pada pelaksanaan.
    3. Keterampilan komunikasi  yang kuat (Bahasa Inggris).
    4. Memiliki ketertaarikan pada bidang kesehatan, global mobility, atau startup.
    5. Bersedia melakukan outreach (pendekatan pada klien), pembuatan konten, dan multitasking.
    6. Mindset enterpreneur menjadi poin plus.

    Lowongan yang dibuka:

    1. Commercial & Partnership Development
    2. Recruitment Support
    3. Content & Growth Marketing.

    Segera kirimkan CV dan lamaran ke hello@globalparo.com dengan subjek NAMA_Commercial Partnership Intern.

  • | | |

    Intervensi Sederhana, Dampak Bermakna: Terapi Sujok di Tamanmartani, Puskesmas Kalasan, Sleman, Yogyakarta

    Kondisi fisik yang optimal menjadi salah satu faktor penting dalam menunjang aktivitas sehari-hari, terutama bagi masyarakat yang memiliki berbagai keluhan akibat kelelahan maupun kondisi tertentu. Selain pengobatan, pendekatan nonfarmakologis seperti terapi tradisional dan  komplementer dapat menjadi alternatif dalam membantu mengurangi keluhan tersebut. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah terapi Sujok, yang berfokus pada stimulasi titik-titik tertentu pada tangan dan kaki. Berkaitan dengan hal tersebut, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan FK-KMK UGM melaksanakan kegiatan terapi Sujok di Balai Kelurahan Tamanmartani, Sleman pada Jumat, 10 April pukul 08.00-11.30 WIB.

    Kegiatan ini dilaksanakan dengan melibatkan 10 mahasiswa yang memberikan pelayanan kepada kurang lebih 40 peserta. Pelaksanaan terapi berlangsung bersamaan dengan kegiatan lain yaitu sosialisasi mengenai manajemen stres, pemeriksaan kesehatan, serta kegiatan senam bersama. 

    Salah satu kasus yang cukup menarik dalam kegiatan ini adalah seorang pasien yang mengeluhkan nyeri pada area gluteal (pantat) saat duduk dalam waktu lama, terutama ketika beralih dari posisi duduk ke berdiri. Keluhan tersebut cukup mengganggu aktivitas sehari-hari yang banyak dilakukan dalam posisi duduk. Sebelum dilakukan intervensi, pasien menyampaikan bahwa nyeri muncul secara konsisten setiap kali melakukan perubahan posisi. Terapi Sujok kemudian diberikan dengan fokus pada titik-titik korespondensi yang berkaitan dengan area keluhan. Setelah dilakukan terapi, pasien melaporkan adanya penurunan intensitas nyeri yang dirasakan. Perubahan tersebut juga terlihat secara nonverbal, ditandai dengan ekspresi wajah yang lebih rileks serta munculnya senyuman lega setelah intervensi dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa terapi yang diberikan memberikan dampak positif terhadap kenyamanan pasien.

    Pelaksanaan kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa dalam mengasah keterampilan praktik serta meningkatkan kemampuan komunikasi dan empati dalam memberikan pelayanan kesehatan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pendekatan yang holistik dan terintegrasi sangat penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

    Selain itu, kegiatan ini juga berkontribusi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 9 (Inovasi dan Infrastruktur), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

    (Kontributor: Putri Adanya Riszky, Syarif Kurniawan Putranto, Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., M.NSc., PhD.)

  • | | |

    Implementasi Terapi Sujok untuk Meningkatkan Kualitas Kesehatan pada Lansia Ngentak, Sapen

    Kesehatan masyarakat merupakan salah satu aspek penting dalam upaya meningkatkan kualitas hidup, khususnya pada kelompok usia dewasa dan lansia yang rentan mengalami keluhan fisik akibat aktivitas sehari-hari maupun kondisi penyakit kronis. Dalam rangka upaya mendukung upaya promotif dan preventif di masyarakat, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan FK-KMK UGM melaksanakan kegiatan pelayanan terapi tradisional berupa terapi Sujok di Balai Pertemuan RT/RW 01 Ngentak, Sapen pada Rabu (8/4) yang merupakan lingkup dari Puskesmas Depok 3.

    Kegiatan ini merupakan bagian dari Program PLPS Magang Terapi Sujok FK-KMK UGM yang dikoordinasikan dan didampingi oleh Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., MNSc., PhD. Tujuan kegiatan ini untuk memberikan alternatif intervensi non farmakologis dalam membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan umum yang dialami masyarakat. Selain itu, kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran berbasis praktik bagi mahasiswa dalam mengaplikasikan pendekatan keperawatan holistik di masyarakat.

    Berdasarkan data terdapat 22 pasien menerima layanan terapi Sujok. Selama kegiatan berlangsung ditemukan bahwa keluhan yang paling dominan adalah masalah muskuloskeletal, seperti nyeri lutut, baik pada lutut kanan maupun kiri. Nyeri tersebut umumnya dirasakan saat melakukan aktivitas seperti berjalan dalam waktu lama, beribadah (bersujud), maupun saat perubahan posisi dari duduk ke berdiri. Selain itu, masyarakat juga melaporkan keluhan lain berupa nyeri pada bahu, punggung bawah, kaki, serta tumit, yang sebagian besar berkaitan dengan aktivitas fisik berulang dan kondisi kelelahan. Keluhan lain yang dilaporkan adalah pusing dan sakit kepala yang mengarah pada gejala vertigo. Beberapa anggota masyarakat juga mengaitkan keluhan tersebut dengan riwayat penyakit seperti hipertensi dan kolesterol yang tinggi.

    Intervensi yang diberikan berupa terapi Sujok, yaitu metode terapi tradisional yang dilakukan melalui stimulasi titik-titik koresponden pada tangan (su) dan kaki (jok) yang merepresentasikan organ tubuh tertentu yang disebut dengan Sujok koresponden. Pada kondisi tertentu, ditambahkan juga terapi menggunakan Sujok Triorigin. Teknik yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi penekanan titik refleksi menggunakan probe, penempelan biji pada titik nyeri, penggunaan magnet terapi, serta penggunaan Elastic Wire Colour and Tera-Wave Therapy (EWCT). Meskipun respon terhadap terapi bervariasi secara individual, secara rata-rata intensitas keluhan mulai menunjukkan penurunan dalam waktu 30 menit setelah intervensi diberikan. 

    Terdapat satu kasus yang menarik perhatian dari kegiatan ini yaitu lansia berusia 83 tahun datang dengan keluhan selama 2 bulan merasakan sakit di lutut kirinya saat lutut ditekuk dan melakukan sujud. Keluhan tersebut disebabkan oleh trauma psikologis yaitu jatuh dari motor. Pada awal sebelum dilakukannya terapi lansia tersebut mengatakan sakit berada di skala 5 lalu diberikan terapi pemijatan dengan probe, pemberian warna, dan penempelan biji pada basic correspondence su kiri. Setelah dilakukannya intervensi, walaupun keluhan tidak menurun langsung secara drastis, lansia menunjukkan penurunan gejala yang cenderung progresif pada setiap 5 menit, 15 menit, dan 30 menit yang ditunjukkan pada penurunan skala sakit dari awal keluhan disebutkan. Hal ini menonjol dibandingkan dengan rata-rata subjek lainnya yang membutuhkan waktu pemulihan lebih lama. 

    Kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan teori yang telah dipelajari, tetapi juga menjadi proses pembelajaran dalam menghadapi realita di lapangan. Melalui interaksi langsung dengan masyarakat dan kolaborasi tim, mahasiswa belajar bahwa keberhasilan sebuah program sangat bergantung pada komunikasi yang efektif dan kemampuan adaptasi yang cepat. Pengalaman ini juga menyadarkan mahasiswa bahwa tantangan terbesar bukanlah pada teknis pelaksanaan, melainkan bagaimana menjaga konsistensi dan empati di setiap pelayanan yang diberikan.

    Selain memberikan manfaat klinis, kegiatan ini juga berkontribusi terhadap pencapaian beberapa nilai SDGs diantaranya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 9 : Inovasi dan Infrastruktur, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. 

    (Kontributor: Herawati Kahartan, Izdihar Najwa, Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., MNSc., PhD.)

  • | |

    Mahasiswa Profesi Ners FKKMK UGM Gencarkan Edukasi Pencegahan Infeksi Nosokomial

    Mahasiswa Profesi Ners Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada melaksanakan kegiatan penyuluhan kesehatan tentang pencegahan infeksi nosokomial pada hari Sabtu, 4 April 2026.  Kegiatan tersebut berlangsung di Bangsal Bedah Srikandi 3 Rumah Sakit Akademik UGM dengan sasaran pasien beserta keluarga yang sedang menjalani perawatan. Kegiatan ini merupakan bagian dari Praktik Profesi Keperawatan Medikal Bedah (PPKMB).

    Penyuluhan kesehatan yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pasien serta keluarga mengenai pentingnya mencegah infeksi nosokomial guna mendukung keselamatan pasien selama masa perawatan di rumah sakit. Kegiatan penyuluhan ini tentunya sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya “SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera” yang menekankan pentingnya upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

    Kegiatan di gawangi oleh empat mahasiswa profesi ners, yaitu Aisha Nindi Wulansari, S.Kep., Rizka Dewi Khasanah, S.Kep., Syaikhah Hanifah Azaria, S.Kep., dan Zaidah A’liyatul Muthi’ah, S.Kep., di bawah bimbingan dosen Bapak Khudazi Aulawi, S.Kp., M.Kes., MN.Sc., Ph.D dari Departemen Keperawatan Medikal Bedah FKKMK UGM. Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan melibatkan peserta dalam diskusi dan demonstrasi sederhana.

    Materi yang disampaikan meliputi pengertian dan bahaya infeksi nosokomial, pentingnya upaya pencegahan, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh pasien dan keluarga untuk meminimalkan risiko infeksi selama dirawat. Infeksi nosokomial merupakan infeksi yang diperoleh selama pasien menjalani perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan, yang dapat memperpanjang masa rawat dan meningkatkan risiko komplikasi.

    Sebagai upaya pencegahan, tim penyuluh menekankan pentingnya menjaga kebersihan tangan melalui praktik enam langkah cuci tangan menggunakan sabun. Demonstrasi dilakukan secara langsung agar peserta dapat memahami dan mempraktikkan teknik yang benar. Selain itu, peserta juga diedukasi mengenai penggunaan masker dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar sebagai bagian dari pencegahan infeksi.

    Peserta penyuluhan menunjukkan antusiasme selama kegiatan berlangsung. Beberapa pasien dan keluarga menyampaikan bahwa edukasi yang diberikan membantu mereka lebih memahami pentingnya menjaga kebersihan tangan dan langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi selama di rumah sakit. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan rumah sakit, serta mendukung upaya peningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bentuk kontribusi mahasiswa profesi ners dalam pengabdian kepada masyarakat melalui edukasi kesehatan.

    Kontributor: Aisha Nindi Wulansari; Rizka Dewi Khasanah; Syaikhah Hanifah Azaria; Zaidah A’liyatul Muthi’ah

    Editor: Arifin Triyanto, S.Kep., Ns. M.Kep., Sp.Kep.M.B.; Khudazi Aulawi, S.Kp., M.Kes., MN.Sc., Ph.D

  • | | |

    Penerimaan Mahasiswa Baru Program Studi Ilmu Keperawatan Program Rekognisi Pembelajar Lampau TA 2026/2027

    📢 Pendaftaran mahasiswa melalui jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Program Studi Ilmu Keperawatan FK-KMK UGM telah dibuka 🏥

    DESKRIPSI PROGRAM STUDI

    Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi No. 41 tahun 2021,  Rekognisi Pembelajaran Lampau yang selanjutnya disingkat RPL adalah pengakuan atas capaian pembelajaran seseorang yang diperoleh dari pendidikan formal, nonformal, informal, dan/atau pengalaman kerja sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan formal dan untuk melakukan penyetaraan dengan kualifikasi tertentu.

    Program Studi Ilmu Keperawatan membuka jalur RPL untuk perawat-perawat yang berafiliasi/ berstatus perawat di Rumah Sakit jejaring Academic Health System (AHS) Universitas Gadjah Mada untuk menempuh pendidikan alih jenjang dari lulusan Diploma 3 (DIII) menjadi Profesi Ners.

      

     Sosialisasi Program RPL

    Sosialisasi mengenai detail program RPL akan dilaksanakan secara daring via zoom meeting pada:

    Hari, tanggal: Jumat, 24 April 2026

    Pukul: 13.00-selesai

    Meeting ID: 981 4446 0319
    Passcode: RPLPSIK26

     

  • | | |

    Tri Dharma dalam Aksi: Terapi Sujok di RSUP Dr. Sardjito

    Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) melalui mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat selama dua sesi yaitu hari Senin, 16 Maret dan 30 Maret 2026 di RSUP Dr. Sardjito. Kegiatan ini menjadi bagian dari integrasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menggabungkan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam satu aktivitas nyata yang berdampak langsung bagi pasien. Penggunaan pendekatan ini telah memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar sambil beraksi, menerapkan ilmu, mendorong inovasi, dan langsung memberi manfaat bagi kesehatan masyarakat sehingga menjadi sebuah sinergi akademik yang nyata.

    Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mata kuliah elektif: PLPS Program Magang Terapi Sujok, sebuah program pembelajaran berbasis praktik yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan terapi tradisional/komplementer secara langsung di lingkungan rumah sakit. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini didampingi oleh beberapa dosen dari Program Studi Ilmu Keperawatan FK-KMK UGM, diantaranya Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., M.NSc., Ph.D dan Dwi Harjanto, S.Kp., M.Sc. dan sebanyak 18 mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan FK-KMK UGM. Mahasiswa tidak hanya mempraktikkan teknik terapi Sujok, tetapi juga mengasah keterampilan komunikasi terapeutik, kemampuan observasi klinis, serta pemahaman mengenai pendekatan holistik dalam pelayanan kesehatan.

    Pada sesi pelayanan tanggal 16 dan 30 Maret 2026, tercatat sebanyak 20 pasien mendapatkan pelayanan terapi Sujok dengan berbagai keluhan kesehatan. Keluhan yang paling sering ditemukan, antara lain nyeri punggung sendi, nyeri lutut, sakit kepala, keluhan lambung, gangguan tidur, serta keluhan emosi. Terapi dilakukan melalui stimulasi titik korespondensi pada tangan dan kaki menggunakan teknik penekanan manual dengan probe, aplikasi biji-bijian atau magnet, penggunaan warna, serta Elastic Wire Colour and Tera-Wave Therapy (EWCT).

    Menariknya, sebagian besar pasien melaporkan perubahan positif setelah menjalani satu sesi terapi. Beberapa pasien mengungkapkan bahwa rasa nyeri yang sebelumnya mengganggu aktivitas sehari-hari mulai berkurang dan tubuh terasa lebih ringan. Salah satu kasus yang cukup mencuri perhatian adalah nyeri dengan skala 6 yang menjalar pada lengan pasca operasi ca mammae. Setelah dilakukan terapi pada titik korespondensi yang sesuai, pasien menunjukkan penurunan nyeri ke skala 4 hanya dalam waktu 5 menit. 

    Pada kegiatan lanjutan tanggal 30 Maret 2026, beberapa pasien kembali mendapatkan layanan terapi Sujok dengan keluhan seperti sakit gigi, sesak nafas, sakit leher, hidung tersumbat, nyeri betis, nyeri telapak kaki. Terapi dilakukan melalui pemijatan titik refleksi menggunakan probe, penempelan biji pada titik sakit korespondensi, serta penggunaan magnet pada titik terapi tertentu. Beberapa pasien melaporkan adanya penurunan intensitas nyeri setelah terapi dilakukan.

    Salah satu kasus yang cukup menarik terjadi pada pasien dengan keluhan sakit gigi karena gigi berlubang yang membuat pasien terganggu dalam beraktivitas. Setelah dilakukan simulasi titik korespondensi pada tangan kiri serta penempelan biji pada titik terapi yang relevan, pasien melaporkan penurunan nyeri yang cukup signifikan dalam waktu sekitar 20 – 30 menit. Pada kasus lain, pasien dengan nyeri telapak kaki juga melaporkan bahwa nyeri yang dirasakan berkurang secara signifikan setelah stimulasi titik refleksi dan penempelan biji pada titik terapi tertentu.

    Selain memberikan manfaat langsung bagi pasien, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya pengembangan penelitian terkait efektivitas terapi Sujok dalam mengatasi berbagai keluhan kesehatan. Data respons pasien yang diperoleh selama kegiatan akan menjadi bahan kajian lebih lanjut guna mendukung penguatan praktik keperawatan komplementer berbasis bukti.

    Bagi mahasiswa, kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang berharga. Mereka menyadari bahwa pendekatan terapi komplementer dapat menjadi alternatif intervensi yang sederhana namun memberikan dampak nyata bagi kenyamanan pasien. Interaksi langsung dengan pasien juga menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya empati, ketelitian, dan pendekatan holistik dalam praktik keperawatan. Melalui pengalaman ini, mahasiswa belajar melihat pasien sebagai individu utuh, bukan sekadar kasus, sehingga setiap tindakan perawatan menjadi lebih bermakna dan berdampak nyata.

    Secara lebih luas, kegiatan ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 9 mengenai Inovasi dan Infrastruktur, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kolaborasi antara dunia akademik dan fasilitas pelayanan kesehatan diharapkan terus menghadirkan inovasi pelayanan yang bermanfaat bagi masyarakat.

    (Kontributor: Cita Nur Faizah, Esyatulkayyis dan Prof. Intansari Nurjannah, SKp., MNSc., PhD)

  • | | |

    Mahasiswa Keperawatan FK-KMK UGM Terapkan Terapi Sujok untuk Atasi Nyeri Muskuloskeletal di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

    Nyeri pada bahu, punggung, tangan, hingga kaki kerap menjadi keluhan yang dialami pekerja dengan aktivitas fisik tinggi. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) memberikan layanan terapi Sujok bagi karyawan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada 3 dan 11 Maret 2026.

    Kegiatan ini merupakan bagian dari Program PLPS Magang Terapi Sujok, yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mempraktikkan keterampilan klinis secara langsung di lapangan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

    Sebanyak 26 peserta mengikuti kegiatan ini, terdiri dari 17 peserta pada 3 Maret dan 9 peserta pada 11 Maret 2026. Peserta berasal dari berbagai profesi di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, antara lain admin gizi, pramusaji, asisten bidan atau perawat, bina rohani, rekam medis, apoteker, admin HRD, perawat, bidan, hingga dokter. Sebagian besar peserta datang dengan keluhan nyeri muskuloskeletal pada bahu, punggung, pinggang, serta ekstremitas atas dan bawah yang berkaitan dengan aktivitas kerja sehari-hari.

    Terapi Sujok, yang dikembangkan oleh Prof. Park Jae Woo dari Korea, merupakan metode terapi yang memanfaatkan titik refleksi pada tangan dan kaki yang merepresentasikan organ atau bagian tubuh tertentu. Melalui stimulasi pada titik refleksi tersebut, terapi ini dapat membantu meredakan nyeri, meningkatkan sirkulasi, serta memberikan rasa relaksasi.

    Kegiatan ini berada di bawah pendampingan Koordinator Program PLPS Magang Terapi Sujok (PMTS), Prof. Intansari Nurjannah, SKp., MNSc., PhD dari Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas serta dosen pendamping Janatin Hastuti, SSi, MKes., PhD dari Departemen Gizi Kesehatan.

    Menurut Prof. Intansari, kegiatan ini tidak hanya memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang penting bagi mahasiswa. “Melalui kegiatan ini mahasiswa dapat mempraktikkan keterampilan klinis secara langsung sekaligus mengenalkan terapi yang sederhana dan aman untuk membantu mengurangi keluhan nyeri,” ujarnya. Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari para peserta. Selain menerima terapi, peserta juga memperoleh penjelasan mengenai cara kerja terapi Sujok yang dinilai sederhana dan mudah dipraktikkan.

    Setelah terapi dilakukan, sebagian besar peserta melaporkan penurunan nyeri dan peningkatan kenyamanan pada bagian tubuh yang sebelumnya terasa sakit. Teknik yang digunakan antara lain pemijatan menggunakan probe, penempelan biji, pemasangan magnet, serta Elastic Wire Colour and Tera-Wave Therapy (EWCT). Evaluasi yang dilakukan 5–30 menit setelah terapi menunjukkan adanya penurunan skala nyeri pada beberapa peserta.

    Salah satu respon cepat terlihat pada seorang pasien wanita berusia 33 tahun dengan keluhan nyeri pergelangan tangan kiri dengan skala nyeri 5. Setelah dilakukan stimulasi menggunakan probe dan pemasangan magnet, dalam waktu sekitar 30 menit skala nyeri menurun menjadi 0.

    Pelaksanaan kegiatan ini juga turut mendukung upaya tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan ini berkontribusi pada SDG 3 (Good Health and Well-being) dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan edukasi kesehatan. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pemanfaatan pendekatan terapi komplementer berbasis inovasi sederhana yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan dalam pelayanan kesehatan masyarakat serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, mahasiswa, dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidup bersama.

    (Kontributor: Amelia Noor Izza Putri, Annisa Nurlaila Jauhar, dan Prof. Intansari Nurjannah, SKp., MNSc., PhD)

  • | |

    Kebas Hilang dalam 5 Menit: Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan UGM Praktikkan Terapi Sujok

    Keluhan kebas dan kaku pada tangan yang dialami seorang wanita (54 tahun) berhasil hilang hanya dalam waktu sekitar lima menit setelah mendapatkan stimulasi terapi Sujok dari mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) Universitas Gadjah Mada. Pasien yang sebelumnya menilai tingkat ketidaknyamanan pada skala 5 (0–10) melaporkan bahwa setelah terapi dilakukan, keluhan kebas tidak lagi dirasakan dan tangan terasa lebih ringan digerakkan.

    Pengalaman tersebut terjadi dalam kegiatan praktik terapi Sujok yang dilaksanakan mahasiswa PSIK Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM di SMPIT Salman Al Farisi Boarding School Yogyakarta pada Jumat (6/3). Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu secara langsung di lapangan sekaligus menghadirkan layanan terapi kesehatan tradisional bagi masyarakat.

    Kegiatan ini merupakan bagian dari Program PLPS Magang Terapi Sujok (PMTS) FK-KMK UGM yang dikoordinasikan oleh Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., MNSc., PhD dari Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas dan Departemen Keperawatan Medikal Bedah. Mahasiswa juga mendapatkan pendampingan dari para dosen PSIK FK-KMK UGM, yaitu Dr. Ibrahim Rahmat, S.Kp., M.Kes., Purwanta, S.Kp., M.Kes., Dr. Akhmadi, S.Kp., M.Kes., M.Kep., Sp.Kep.Kom., serta Melyza Perdana, S.Kep., Ns., MSc., PhD.

    Sebanyak sekitar 40 peserta dari berbagai kelompok usia mengikuti terapi ini, mulai dari remaja hingga lansia. Peserta berasal dari warga sekitar, pengurus sekolah, guru, hingga para siswa. Keluhan yang paling banyak disampaikan antara lain nyeri punggung, pegal pada bahu dan leher, sakit kepala, serta kelelahan akibat aktivitas sehari-hari.

    Terapi Sujok yang diperkenalkan oleh Prof. Park Jae Woo sejak tahun 1987 dilakukan dengan menstimulasi titik korespondensi pada tangan dan kaki yang merepresentasikan bagian tubuh tertentu. Stimulasi dilakukan menggunakan alat sederhana seperti probe, pijatan titik, penempelan biji atau magnet. Dalam kegiatan ini juga digunakan Elastic Wire Colour and Tera-Wave Therapy (EWCT) berwarna biru, inovasi terapi Sujok yang dikembangkan oleh Prof. Intansari Nurjannah pada tahun 2025.

    Respons cepat juga terlihat pada pasien lain (wanita 41 tahun) yang datang dengan keluhan nyeri dari bahu menjalar ke jari dengan skala 9. Setelah dilakukan stimulasi pada titik yang sesuai, nyeri yang dirasakan menurun drastis menjadi skala 0 setelah 35 menit pemberian terapi.

    Menurut Prof. Intansari Nurjannah, kegiatan ini memberikan pengalaman belajar langsung bagi mahasiswa sekaligus memperkenalkan pelayanan kesehatan tradisional komplementer kepada masyarakat. “Melalui praktik langsung seperti ini, mahasiswa dapat melihat respons pasien terhadap terapi yang diberikan sekaligus memahami pentingnya pendekatan holistik dalam pelayanan kesehatan,” ujarnya.

    Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman belajar langsung di lapangan, tetapi juga melihat bagaimana pendekatan pelayanan kesehatan tradisional komplementer dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Praktik ini sekaligus menunjukkan bahwa integrasi ilmu keperawatan, inovasi terapi, dan keterlibatan masyarakat dapat menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan bersama.

    Kegiatan praktik terapi Sujok ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya peningkatan kesehatan masyarakat, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pemanfaatan inovasi terapi Sujok, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara mahasiswa, dosen, dan institusi pendidikan.

    (Kontributor: Artalitha Bintang Maulidinna, Arrifa Ilyana Cholarin, dan Prof. Intansari Nurjannah, SKp., MNSc., PhD)