|

Departemen Keperawatan Laksanakan Pengabdian kepada Masyarakat di Children House Griya Lare Utami: Wujud Kepedulian dan Kontribusi Nyata bagi Masyarakat

Bantul, 19 Oktober 2025 – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-27, Departemen Keperawatan FKKMK UGM melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Forever Fit, Forever Strong” pada Minggu, 19 Oktober 2025 di Children House Griya Lare Utami yang terletak di Padukuhan Bakung, Bangunharjo, Sewon, Bantul. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dihadiri oleh para kepala departemen keperawatan, dosen, staf, mahasiswa sarjana, profesi ners dan magister keperawatan. Dari pihak kalurahan juga turut hadir Lurah Bangunharjo, para dukuh, para kader kesehatan dan masyarakat sebagai peserta pengabdian kepada masyarakat.

Kegiatan ini meliputi skrining kesehatan fisik dan mental, pemeriksaan kesehatan berupa antropometri, tanda-tanda vital, pemeriksaan glukosa, asam urat dan kolesterol sewaktu serta konsultasi gratis yang dilakukan oleh dosen keperawatan dan difasilitasi oleh staf dan mahasiswa PSIK, Ners maupun PSMK FKKMK UGM. Acara ini dilanjutkan dengan penyuluhan kesehatan bagi warga sekitar. Penyuluhan disampaikan oleh Dr. Sri Mulyani, S.Kep., Ns., M.Ng. dari Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas FKKMK UGM dan dr. Aliatul Muafiah dari Puskesmas Sewon II, yang membahas pentingnya menjaga kebugaran fisik dan kesehatan mental untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dalam pencegahan penyakit kronis dan kesehatan jiwa. Sesi diskusi panel berlangsung interaktif dan hangat.

Acara penyuluhan dimulai dengan senam otak yang dilakukan bersama-sama dari perwakilan departemen dan lebih dari 40 peserta. Para peserta pengabdian kepada masyarakat aktif mengajukan pertanyaan seputar pola hidup sehat, manajemen stres, serta perawatan mandiri di rumah. Sebagai bentuk apresiasi, panitia mengumumkan doorprize menarik, membagikan souvenir kepada para peserta, dan menyerahkan kenang-kenangan kepada Children House Griya Lare Utami

Melalui kegiatan ini, Departemen Keperawatan terus menunjukkan komitmennya dalam memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Selain menjadi bagian dari perayaan hari jadi, kegiatan ini juga memperkuat hubungan dengan Children House Griya Lare Utami yang memberikan layanan kesehatan kepada anak anak berkebutuhan khusus (Cerebral Palsy). Tidak hanya melayani kesehatan untuk anak berkebutuhan khusus, daerah Griya Lare Utami juga menjadi daerah binaan Departemen Keperawatan FKKMK UGM, yang menjadi sarana penerapan ilmu dan pengabdian berkelanjutan bagi dosen dan mahasiswa keperawatan.

Departemen Keperawatan FKKMK UGM berkomitmen untuk terus memperkuat peran tridharma perguruan tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—dengan semangat kolaborasi lintas sektor. Kegiatan ini sekaligus mendukung upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam peningkatan kesehatan dan kesejahteraan (SDG 1), pendidikan berkualitas (SDG 4), dan kemitraan yang kolaboratif dan berkelanjutan (SDG 17).

(Kontributor: Rahma Mahdia Izzati, S.Kep. , Ade Sutrimo, S.Kep., Ns., MSN., Sp.Kep.J.)

Similar Posts

  • Penguatan Posyandu Lansia di Dusun Kuningan: Kemandirian, Kesehatan Mental, dan Digitalisasi Pencatatan oleh Tim Abdimas FKKMK UGM

    Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) FKKMK UGM Skema Klaster yang diketuai oleh dr. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D., telah menyelenggarakan rangkaian kegiatan penguatan Posyandu Lansia berkolaborasi dengan Puskesmas Depok III dan tokoh masyarakat setempat di Dusun Kuningan, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat peran kader lansia, mendukung kesejahteraan kesehatan mental lansia, meningkatkan kualitas pendataan, dan memetakan kebutuhan layanan berbasis komunitas yang melibatkan kader lansia serta mitra. Hal ini sebagai langkah awal tim melaksanakan empat kegiatan utama yaitu jejak pendapat bersama Puskesmas, jejak pendapat bersama kader lansia, sesi refreshing kader di Bale Ayu, perencanaan kegiatan workshop teknologi digital bersama Puskesmas serta Dinas Kesehatan Sleman, dan Festival Lansia Kuningan yang rencananya akan menerapkan Posbindu dengan sistem pencatatan digital.

    Dalam jejak pendapat bersama Puskesmas Depok III, tim abdimas diwakili oleh Dr. Azam David Saifullah, S.Kep., Ns., M.Sc., Dr. Fitrina M Kusumaningrum SKM., MPH., Marina Hardiyanti, S.Gz., M.Sc., dan Amalia Maysarah, S.Tr.KL., MPH. Terungkap bahwa terdapat persoalan teknis yang mendasar: selama ini input data oleh kader masih dilakukan melalui Google Form sederhana, namun terdapat keterbatasan kader lansia dalam mengoperasikannya. Temuan dari Puskesmas yang disampaikan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan jejak pendapat bersama kader lansia, yang memperjelas sisi implementasi di lapangan. Banyak kader memiliki semangat besar untuk menjalankan posyandu namun menghadapi hambatan literasi digital, serta keterbatasan menggunakan perangkat digital. Untuk saat ini, kader berusaha mengumpulkan laporan dengan meminta bantuan dari kader lain dengan usia lebih muda, serta familiar dengan teknologi. Namun kadang terjadi keterlambatan dalam pengumpulan laporan, sehingga kegiatan Posbindu Lansia tidak terekam di Puskesmas.

    Selanjutnya, dalam diskusi tim Abdimas yang dihadiri oleh dr. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D., Dr. dr. Guardian Yoki Sanjaya, M.Hlth.Info., Amalia Maysarah, S.Tr.KL., MPH, Fadliana Hidayatu Rizky Uswatun Hasanah, S.Tr.Keb., Bdn., bersama dengan tim District Health Information System (DHIS) yang diwakili oleh Sukma Dian, S.K.M. dan Khairani Fauziah, SKM., MPH., mendiskusikan mengenai rencana kegiatan workshop digitalisasi. Berdasarkan rangkaian temuan dan respons dari semua pihak, tim Abdimas merancang kegiatan lanjutan berupa workshop bertema “Optimalisasi Teknologi Digital untuk Pelayanan Komunitas di Posyandu” yang akan melibatkan Dinas Kesehatan, serta Puskesmas Depok I sampai III. Workshop ini akan memusatkan pada penyusunan format pelaporan yang selaras dengan SIMPUS, pelatihan praktik entry data, dan simulasi alur pelaporan. Workshop ini juga bagian dari jejak pendapat, demo entry data, sekaligus mencoba menjawab pertanyaan besar selama ini, “apakah sistem SIMPUS dapat menyederhanakan pelaporan dan tercapai tujuan pelaporan satu pintu?”

    Selain itu, tim juga merancang kegiatan Festival Lansia, yang direncanakan terlaksana dalam bentuk Posbindu 6 meja, dengan meja terakhir sebagai meja pencatatan data, sekaligus akan dilakukan entry melalui sistem develop yang dikembangkan oleh Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan bersama DHIS. Kegiatan pilot testing akan dilakukan untuk menguji alur pendaftaran dan entry data digital secara langsung di lapangan bertujuan untuk menilai aspek kelayakan dan kemudahan penggunaannya.

    Dalam perjalanannya, tim juga membuat Modul Kesehatan Mental Lansia, yang dibantu oleh Ema Madyaningrum, S.Kep., Ns., M.Kes., Ph.D., Dr. Azam David Saifullah, S.Kep., Ns., M.Sc., dan Muhammad Reza Fahlevy. Modul ini akan memadukan buku yang telah ada, disempurnakan dengan materi yang dibutuhkan oleh lansia. Materi didapatkan dari hasil jejak pendapat bersama dengan para kader. Tujuannya, agar lansia dapat mengakses informasi kesehatan mental dengan baik dan lebih mudah.

    Tim Abdimas klaster menegaskan bahwa, seluruh rangkaian kegiatan ini ingin mencapai tujuan yang lebih luas daripada sekedar memperbaiki alur pencatatan. Kegiatan ini juga bertujuan memperkuat jejaring layanan komunitas bagi lansia dan meningkatkan kualitas layanan di tingkat dasar. Dukungan lintas sektor dari Puskesmas, Dinas Kesehatan, dan tokoh masyarakat setempat menjadi kunci agar kegiatan ini dapat memberi manfaat nyata bagi kemandirian dan kesehatan mental lansia di Desa Kuningan. (Kontributor: Amalia Maysarah, S.Tr.KL., MPH).

  • | |

    Mahasiswa Profesi Ners FKKMK UGM Gencarkan Edukasi Pencegahan Infeksi Nosokomial

    Mahasiswa Profesi Ners Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada melaksanakan kegiatan penyuluhan kesehatan tentang pencegahan infeksi nosokomial pada hari Sabtu, 4 April 2026.  Kegiatan tersebut berlangsung di Bangsal Bedah Srikandi 3 Rumah Sakit Akademik UGM dengan sasaran pasien beserta keluarga yang sedang menjalani perawatan. Kegiatan ini merupakan bagian dari Praktik Profesi Keperawatan Medikal Bedah (PPKMB).

    Penyuluhan kesehatan yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pasien serta keluarga mengenai pentingnya mencegah infeksi nosokomial guna mendukung keselamatan pasien selama masa perawatan di rumah sakit. Kegiatan penyuluhan ini tentunya sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya “SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera” yang menekankan pentingnya upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

    Kegiatan di gawangi oleh empat mahasiswa profesi ners, yaitu Aisha Nindi Wulansari, S.Kep., Rizka Dewi Khasanah, S.Kep., Syaikhah Hanifah Azaria, S.Kep., dan Zaidah A’liyatul Muthi’ah, S.Kep., di bawah bimbingan dosen Bapak Khudazi Aulawi, S.Kp., M.Kes., MN.Sc., Ph.D dari Departemen Keperawatan Medikal Bedah FKKMK UGM. Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan melibatkan peserta dalam diskusi dan demonstrasi sederhana.

    Materi yang disampaikan meliputi pengertian dan bahaya infeksi nosokomial, pentingnya upaya pencegahan, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh pasien dan keluarga untuk meminimalkan risiko infeksi selama dirawat. Infeksi nosokomial merupakan infeksi yang diperoleh selama pasien menjalani perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan, yang dapat memperpanjang masa rawat dan meningkatkan risiko komplikasi.

    Sebagai upaya pencegahan, tim penyuluh menekankan pentingnya menjaga kebersihan tangan melalui praktik enam langkah cuci tangan menggunakan sabun. Demonstrasi dilakukan secara langsung agar peserta dapat memahami dan mempraktikkan teknik yang benar. Selain itu, peserta juga diedukasi mengenai penggunaan masker dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar sebagai bagian dari pencegahan infeksi.

    Peserta penyuluhan menunjukkan antusiasme selama kegiatan berlangsung. Beberapa pasien dan keluarga menyampaikan bahwa edukasi yang diberikan membantu mereka lebih memahami pentingnya menjaga kebersihan tangan dan langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi selama di rumah sakit. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan rumah sakit, serta mendukung upaya peningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bentuk kontribusi mahasiswa profesi ners dalam pengabdian kepada masyarakat melalui edukasi kesehatan.

    Kontributor: Aisha Nindi Wulansari; Rizka Dewi Khasanah; Syaikhah Hanifah Azaria; Zaidah A’liyatul Muthi’ah

    Editor: Arifin Triyanto, S.Kep., Ns. M.Kep., Sp.Kep.M.B.; Khudazi Aulawi, S.Kp., M.Kes., MN.Sc., Ph.D

  • | |

    Bakti Sosial untuk Penyintas dan Kelompok terdampak Pandemi COVID-19 dan Pelatihan Shelter di Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Bantul, DIY

    Yogyakarta – Panitia Lintas Departemen Keperawatan FKKMK UGM bersama Himpunan Mahasiswa Keperawatan (HIMIKA) dan Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Keperawatan (HMPK) menyelenggarakan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) pada 4-5 September 2021. Kegiatan ini merupakan rangkaian HUT Departemen Keperawatan ke-23, HIMIKA ke-11 dan HMPK ke-3. Agenda pengabdian masyarakat yang dilaksanakan senada dengan tema HUT yang bertajuk “Meningkatkan Kebersamaan dan Ketangguhan di Masa Pandemi: Keperawatan Bisa!”.

    Kalurahan Panggungharjo merupakan daerah yang berorientasi maju dalam hal kesehatan dengan stakeholder, potensi sumberdaya bersama masyarakatnya. (Kalurahan) ini berpotensi menjadi daerah binaan Departemen Keperawatan FKKMK UGM. Daerah binaan yang kedepannya dapat menjadi role model dilakukan scale up pada daerah lain maupun tingkat selanjutnya.” papar Ariani Arista Putri P., S.Kep., Ns., MAN., DNP selaku koordinator pengabdian masyarakat panitia HUT Departemen Keperawatan. Acara ini dihadiri perwakilan dosen Depertemen Keperawatan, mahasiswa S1 dan S2.

    Kegiatan PkM dimulai pada Sabtu (4/9) secara luring dalam bentuk penyaluran donasi berupa 50 paket sembako kepada keluarga penyintas COVID-19 yang sedang melakukan isolasi mandiri dirumah, lansia dan yatim piatu terdampak COVID-19. Acara dilanjutkan dengan pemberian alat kesehatan berupa oksimetri, tensimeter, thermo gun, disinfektan dan hand sanitizer yang diperuntukan untuk operasional Shelter Gabungan Tanggon, Kapanewon Sewon. Secara simbolis penandatanganan serahterima dilakukan antara pihak Departemen Keperawatan dan pihak Kalurahan Panggungharjo.

    Agenda dilanjutkan pada hari berikutnya Minggu (5/9) dengan pelatihan relawan shelter yang dilaksanakan secara daring. Acara pelatihan dibuka dengan laporan pelaksana yang mengkoordinasi kegiatan, sambutan pembina HIMIKA dan koordinator pengabdian masyarakat. Materi “Manajemen Shelter” disampaikan oleh Sutono, S.Kp., M.Sc., M.Kep. Dosen Departemen Keperawatan Dasar dan Emergensi dilanjutkan dengan pemaparan materi “Pengukuran Tanda-tanda Vital dan GCU Test” oleh Adi Buyu Prakoso, S.Kep., Ns. Mahasiswa Magister Keperawatan. Materi terakhir disampaikan oleh Intansari Nurjannah, S.Kp., MN.Sc., Ph.D. dengan tema “Terapi Su Jok untuk Pasien COVID-19”.

    Peserta antusias dalam diskusi pada materi-materi yang sudah disampaikan pembicara. Fendika, salah satu relawan, juga menyampaikan pengelolaan yang sudah diterapkan di shelter sebelumnya dan mengharapkan pembahasan terkait penatalaksanaan pada pasien COVID-19 dengan gangguan jiwa. Diharapkan rangkaian PkM ini dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan program-program departemen keperawatan yang menitikberatkan pada keberlangsungan dan kesinambungan tridharma. Bagi Kalurahan Panggungharjo harapannya rangkaian kegiatan ini dapat menstimulasi kemandirian warga dalam menghadapi masalah kesehatan di lingkungannya. (Ade S)

    [yooslider id=1]

  • | | |

    Program Gamatirta sebagai Implementasi dalam Mewujudkan Desa Tangguh Bencana yang Optimal, Tersistem, dan Terintegrasi

    Tirtohargo, Kretek, Bantul. Kamis (9/6) Tim PKM-PM GAMATIRTA “Gerakan Masyarakat Tirtohargo Tangguh Bencana” melangsungkan program pelatihan kesiapsiagaan bencana, meliputi Pertolongan Pertama Gawat Darurat dan Psychological First Aid diikuti oleh workshop serta simulasi langsung oleh Kader FPRB (Forum Pengurangan Risiko Bencana) berkolaborasi dengan BPBD DIY dan PSIK FK-KMK.

    Program tersebut digagas oleh Tim Gamatirta yang terdiri dari Ferdinan Eka (Geofisika’19), Faiz Indra (PSIK’19), Nadia Safa (PSIK’19), Afif Arrahul (Psikologi’19), dan Sekar Arvianda (Psikologi’20), dengan pembimbing Bpk Sutono, S.Kp., M.Sc.,M.Kep. Gamatirta sendiri bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keterampilan kesiapsiagaan bencana alam masyarakat Desa Tirtohargo melalui perpanjangan tangan dari Kader FPRB desa setempat.

    “Gamatirta merupakan solusi alternatif yang aplikatif dalam mempersiapkan Desa Tirtohargo menghadapi potensi ancaman bahaya gempa bumi dan tsunami. Terlebih, desa ini memang sangat rentan terpapar potensi kedua bencana tersebut apabila dilihat dari lokasinya yang berbatasan langsung dengan zona subduksi di selatan Jawa dan dekat dengan zona Sesar Opak” ujar Ferdinan Eka selaku ketua Tim Gamatirta.

    “Sebagai salah satu upaya mitigasi untuk mengurangi korban jiwa akibat bencana, Gamatirta menjadi aksi yang relevan dan mudah untuk dilakukan. Harapannya, dengan adanya program Gamatirta ini dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat Desa Tirtohargo dalam menghadapi potensi ancaman gempa bumi dan tsunami melalui FPRB-nya”  ucap Ferdinan Eka selaku Ketua Tim Gamatirta.

    Lebih dari 25 orang Kader FPRB turut berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan program yang terdiri dari Sembada (Seminar kebencanaan dan dampaknya), Pelita (Pelatihan Tangguh Bencana), dan Simultan (Simulasi Tanggap Bencana). Program unggulan tersebut diiringi dengan beberapa program penunjang, seperti peninjauan sarana prasarana dan fasilitas (papan informasi, plangisasi, dan inventarisasi alat P3K), penanaman mangrove massal bersama komunitas magrove desa setempat, dan pemberian booklet pedoman/buku saku kebencanaan kepada Kader FPRB untuk mendukung keberlanjutan serta kemandirian Program Gamatirta.

    Gagasan Gamatirta berasal dari kondisi geografis Desa Tirtohargo, Kretek, Bantul yang menjadi salah satu wilayah pesisir Pantai Pulau Jawa dan gempa bumi megathrust yang berpotensi menimbulkan bencana alam tsunami. Ditambah dengan kondisi demografis masyarakat desa setempat yang belum memiliki kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang cukup dalam meminimalisir risiko bencana alam dari segi fisik dan psikologis.

    “Program penanggulangan bencana saat ini sudah bergeser dari yang semula difokuskan di respon akut, menjadi peningkatan mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Mengacu kepada Sendai Framework, fokus penanggulangan bencana saat ini adalah Disaster Risk Reduction (DRR), dimana program pengurangan risiko bencana menjadi fokus utama dalam penanggulangan bencana secara umum” ujar Pak Sutono selaku dosen pembimbing tim.

    “Ada tiga komponen penting yang menjadi variable dari Risiko bencana yaitu Hazard/Ancaman, Kerentanan dan Kapasitas. Hazard mungkin sulit untuk dikendalikan, tetapi kerentanan dapat diintervensi dengan melakukan pemberdayaan dan management kelompok rentan yang baik, sehingga nilai kerentanan bisa ditekan serendah mungkin. Sementara itu kapasitas, bisa ditingkatkan dengan peningkatan literasi dan pelatihan-pelatihan. Dengan demikian Risiko bencana bisa menjadi turun” tambah Pak Sutono selaku dosen pembimbing tim.

    Langkah awal yang dilakukan ialah melakukan identifikasi kebutuhan dan masalah, didapatkan bahwa aktivitas dan arah gerak Kader FPRB desa setempat belum optimal/berdaya. Selain itu, pelatihan kesiapsiagaan bencana yang dilakukan juga belum masif dan komprehensif sehingga terbilang eksistensi Kader FPRB belum terlihat.

    “Kami melakukan identifikasi permasalahan diikuti oleh survei dan observasi yang selanjutnya ditindaklanjuti untuk menyusun rencana aksi program agar dapat terlaksana secara masif, proaktif, partisipatif, serta tepat sasaran” ujar Faiz anggota Tim Gamatirta.

    Dari beragam problem hasil identifikasi permasalahan, selanjutnya dipilihlah topik manajemen kegawatdaruratan yang meliputi Pertolongan Pertama Gawat Darurat dan Psychological First Aid yang kemudian ditindaklanjuti melalui rencana aksi dan program inovatif. Rencana aksi tersebut disusun sebagai upaya mewujudkan Desa Tirtohargo menjadi Desa Tangguh Bencana ditinjau dari segi sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sarana prasarana/fasilitas penunjang mitigasi kebencanaan.

    “Kami mengapresiasi program dalam konteks pengabdian masyarakat yang ditujukan masyarakat dan kader FPRB di Desa Tirtohargo, Bantul. Paradigma sekarang berubah yang semula masyarakat itu ditolong, sekarang menolong. Program ini kami dukung sekali karena masyarakat bisa terlatih dan terampil sehingga bisa menjadi tangguh menjadi garda terdepan dalam menghadapi ancaman atau potensi bencana” ujar Pak Enaryaka perwakilan BPBD DIY.

    “Ditambah..dengan peran serta dari organidasi terkait, lembaga, usaha, pemerintah, serta kalurahan dalam menjalin keberlangsungan proses mitigasi dan kesiapsiagaan bencana di Desa Tirtohargo ini” tambah Pak Petrus Ketua Kader FPRB.

    “Kami mengucapkan banyak terima kasih atas partisipasi tim UGM yang ikut serta memikirkan hutan mangrove dan kelestarian lingkungan hidup, harapan kami penanaman mangrove dapat menanggulangi bencana di wilayah kami sehingga dengan penanaman mangrove ombak air laut bisa terhalangi oleh hutan mangrove, semoga tim UGM mendapat pahala dari Allah SWT dan sukses selalu untuk teman-teman dari UGM” apresiasi Kepala Desa Tirtohargo, Bantul.

    Dalam mewujudkan Desa Tangguh Bencana, program gamatirta memiliki potensi dan kemampuan meningkatkan komunikasi risiko bencana, meminimalisir risiko dan dampak bencana, menumbuhkan kesadaran; kepekaan; dan modal sosial, mengimplementasikan praktik mitigasi bencana sesuai teori yang tepat, dan mewujudkan derajat kesehatan secara holistik (fisik, spiritual, sosial, dan spiritual).

    Harapannya, dengan dilaksanakan program pelatihan yang diikuti oleh seminar dan simulasi kebencanaan (PPGD dan PFA) Kader FPRB memiliki kemampuan dan kapasitas dalam melaksanakan praktik Pertolongan Pertama Gawat Darurat serta Psychological First Aid sesuai intrepretasi teori yang baik dan benar. Selain itu, program yang sudah dilaksanakan hendaknya bisa ditindaklanjuti dan dikaji lebih lanjut oleh stakeholder desa mitra setempat agar dapat menunjang aspek kebermanfaatan, keterlibatan, dan keberlanjutan. [Faiz Indra (psik’19)]

  • | | |

    Tri Dharma dalam Aksi: Terapi Sujok di RSUP Dr. Sardjito

    Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) melalui mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat selama dua sesi yaitu hari Senin, 16 Maret dan 30 Maret 2026 di RSUP Dr. Sardjito. Kegiatan ini menjadi bagian dari integrasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menggabungkan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam satu aktivitas nyata yang berdampak langsung bagi pasien. Penggunaan pendekatan ini telah memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar sambil beraksi, menerapkan ilmu, mendorong inovasi, dan langsung memberi manfaat bagi kesehatan masyarakat sehingga menjadi sebuah sinergi akademik yang nyata.

    Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mata kuliah elektif: PLPS Program Magang Terapi Sujok, sebuah program pembelajaran berbasis praktik yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan terapi tradisional/komplementer secara langsung di lingkungan rumah sakit. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini didampingi oleh beberapa dosen dari Program Studi Ilmu Keperawatan FK-KMK UGM, diantaranya Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., M.NSc., Ph.D dan Dwi Harjanto, S.Kp., M.Sc. dan sebanyak 18 mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan FK-KMK UGM. Mahasiswa tidak hanya mempraktikkan teknik terapi Sujok, tetapi juga mengasah keterampilan komunikasi terapeutik, kemampuan observasi klinis, serta pemahaman mengenai pendekatan holistik dalam pelayanan kesehatan.

    Pada sesi pelayanan tanggal 16 dan 30 Maret 2026, tercatat sebanyak 20 pasien mendapatkan pelayanan terapi Sujok dengan berbagai keluhan kesehatan. Keluhan yang paling sering ditemukan, antara lain nyeri punggung sendi, nyeri lutut, sakit kepala, keluhan lambung, gangguan tidur, serta keluhan emosi. Terapi dilakukan melalui stimulasi titik korespondensi pada tangan dan kaki menggunakan teknik penekanan manual dengan probe, aplikasi biji-bijian atau magnet, penggunaan warna, serta Elastic Wire Colour and Tera-Wave Therapy (EWCT).

    Menariknya, sebagian besar pasien melaporkan perubahan positif setelah menjalani satu sesi terapi. Beberapa pasien mengungkapkan bahwa rasa nyeri yang sebelumnya mengganggu aktivitas sehari-hari mulai berkurang dan tubuh terasa lebih ringan. Salah satu kasus yang cukup mencuri perhatian adalah nyeri dengan skala 6 yang menjalar pada lengan pasca operasi ca mammae. Setelah dilakukan terapi pada titik korespondensi yang sesuai, pasien menunjukkan penurunan nyeri ke skala 4 hanya dalam waktu 5 menit. 

    Pada kegiatan lanjutan tanggal 30 Maret 2026, beberapa pasien kembali mendapatkan layanan terapi Sujok dengan keluhan seperti sakit gigi, sesak nafas, sakit leher, hidung tersumbat, nyeri betis, nyeri telapak kaki. Terapi dilakukan melalui pemijatan titik refleksi menggunakan probe, penempelan biji pada titik sakit korespondensi, serta penggunaan magnet pada titik terapi tertentu. Beberapa pasien melaporkan adanya penurunan intensitas nyeri setelah terapi dilakukan.

    Salah satu kasus yang cukup menarik terjadi pada pasien dengan keluhan sakit gigi karena gigi berlubang yang membuat pasien terganggu dalam beraktivitas. Setelah dilakukan simulasi titik korespondensi pada tangan kiri serta penempelan biji pada titik terapi yang relevan, pasien melaporkan penurunan nyeri yang cukup signifikan dalam waktu sekitar 20 – 30 menit. Pada kasus lain, pasien dengan nyeri telapak kaki juga melaporkan bahwa nyeri yang dirasakan berkurang secara signifikan setelah stimulasi titik refleksi dan penempelan biji pada titik terapi tertentu.

    Selain memberikan manfaat langsung bagi pasien, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya pengembangan penelitian terkait efektivitas terapi Sujok dalam mengatasi berbagai keluhan kesehatan. Data respons pasien yang diperoleh selama kegiatan akan menjadi bahan kajian lebih lanjut guna mendukung penguatan praktik keperawatan komplementer berbasis bukti.

    Bagi mahasiswa, kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang berharga. Mereka menyadari bahwa pendekatan terapi komplementer dapat menjadi alternatif intervensi yang sederhana namun memberikan dampak nyata bagi kenyamanan pasien. Interaksi langsung dengan pasien juga menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya empati, ketelitian, dan pendekatan holistik dalam praktik keperawatan. Melalui pengalaman ini, mahasiswa belajar melihat pasien sebagai individu utuh, bukan sekadar kasus, sehingga setiap tindakan perawatan menjadi lebih bermakna dan berdampak nyata.

    Secara lebih luas, kegiatan ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 9 mengenai Inovasi dan Infrastruktur, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kolaborasi antara dunia akademik dan fasilitas pelayanan kesehatan diharapkan terus menghadirkan inovasi pelayanan yang bermanfaat bagi masyarakat.

    (Kontributor: Cita Nur Faizah, Esyatulkayyis dan Prof. Intansari Nurjannah, SKp., MNSc., PhD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *