Mahasiswa Keperawatan FK-KMK UGM Terapkan Terapi Sujok untuk Atasi Nyeri Muskuloskeletal di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

Nyeri pada bahu, punggung, tangan, hingga kaki kerap menjadi keluhan yang dialami pekerja dengan aktivitas fisik tinggi. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) memberikan layanan terapi Sujok bagi karyawan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada 3 dan 11 Maret 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program PLPS Magang Terapi Sujok, yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mempraktikkan keterampilan klinis secara langsung di lapangan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sebanyak 26 peserta mengikuti kegiatan ini, terdiri dari 17 peserta pada 3 Maret dan 9 peserta pada 11 Maret 2026. Peserta berasal dari berbagai profesi di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, antara lain admin gizi, pramusaji, asisten bidan atau perawat, bina rohani, rekam medis, apoteker, admin HRD, perawat, bidan, hingga dokter. Sebagian besar peserta datang dengan keluhan nyeri muskuloskeletal pada bahu, punggung, pinggang, serta ekstremitas atas dan bawah yang berkaitan dengan aktivitas kerja sehari-hari.

Terapi Sujok, yang dikembangkan oleh Prof. Park Jae Woo dari Korea, merupakan metode terapi yang memanfaatkan titik refleksi pada tangan dan kaki yang merepresentasikan organ atau bagian tubuh tertentu. Melalui stimulasi pada titik refleksi tersebut, terapi ini dapat membantu meredakan nyeri, meningkatkan sirkulasi, serta memberikan rasa relaksasi.

Kegiatan ini berada di bawah pendampingan Koordinator Program PLPS Magang Terapi Sujok (PMTS), Prof. Intansari Nurjannah, SKp., MNSc., PhD dari Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas serta dosen pendamping Janatin Hastuti, SSi, MKes., PhD dari Departemen Gizi Kesehatan.

Menurut Prof. Intansari, kegiatan ini tidak hanya memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang penting bagi mahasiswa. “Melalui kegiatan ini mahasiswa dapat mempraktikkan keterampilan klinis secara langsung sekaligus mengenalkan terapi yang sederhana dan aman untuk membantu mengurangi keluhan nyeri,” ujarnya. Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari para peserta. Selain menerima terapi, peserta juga memperoleh penjelasan mengenai cara kerja terapi Sujok yang dinilai sederhana dan mudah dipraktikkan.

Setelah terapi dilakukan, sebagian besar peserta melaporkan penurunan nyeri dan peningkatan kenyamanan pada bagian tubuh yang sebelumnya terasa sakit. Teknik yang digunakan antara lain pemijatan menggunakan probe, penempelan biji, pemasangan magnet, serta Elastic Wire Colour and Tera-Wave Therapy (EWCT). Evaluasi yang dilakukan 5–30 menit setelah terapi menunjukkan adanya penurunan skala nyeri pada beberapa peserta.

Salah satu respon cepat terlihat pada seorang pasien wanita berusia 33 tahun dengan keluhan nyeri pergelangan tangan kiri dengan skala nyeri 5. Setelah dilakukan stimulasi menggunakan probe dan pemasangan magnet, dalam waktu sekitar 30 menit skala nyeri menurun menjadi 0.

Pelaksanaan kegiatan ini juga turut mendukung upaya tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan ini berkontribusi pada SDG 3 (Good Health and Well-being) dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan edukasi kesehatan. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pemanfaatan pendekatan terapi komplementer berbasis inovasi sederhana yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan dalam pelayanan kesehatan masyarakat serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, mahasiswa, dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidup bersama.

(Kontributor: Amelia Noor Izza Putri, Annisa Nurlaila Jauhar, dan Prof. Intansari Nurjannah, SKp., MNSc., PhD)

Facebook
LinkedIn
WhatsApp
Email
X
Facebook