Tri Dharma dalam Aksi: Terapi Sujok di RSUP Dr. Sardjito

Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) melalui mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat selama dua sesi yaitu hari Senin, 16 Maret dan 30 Maret 2026 di RSUP Dr. Sardjito. Kegiatan ini menjadi bagian dari integrasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menggabungkan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam satu aktivitas nyata yang berdampak langsung bagi pasien. Penggunaan pendekatan ini telah memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar sambil beraksi, menerapkan ilmu, mendorong inovasi, dan langsung memberi manfaat bagi kesehatan masyarakat sehingga menjadi sebuah sinergi akademik yang nyata.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mata kuliah elektif: PLPS Program Magang Terapi Sujok, sebuah program pembelajaran berbasis praktik yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan terapi tradisional/komplementer secara langsung di lingkungan rumah sakit. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini didampingi oleh beberapa dosen dari Program Studi Ilmu Keperawatan FK-KMK UGM, diantaranya Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., M.NSc., Ph.D dan Dwi Harjanto, S.Kp., M.Sc. dan sebanyak 18 mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan FK-KMK UGM. Mahasiswa tidak hanya mempraktikkan teknik terapi Sujok, tetapi juga mengasah keterampilan komunikasi terapeutik, kemampuan observasi klinis, serta pemahaman mengenai pendekatan holistik dalam pelayanan kesehatan.

Pada sesi pelayanan tanggal 16 dan 30 Maret 2026, tercatat sebanyak 20 pasien mendapatkan pelayanan terapi Sujok dengan berbagai keluhan kesehatan. Keluhan yang paling sering ditemukan, antara lain nyeri punggung sendi, nyeri lutut, sakit kepala, keluhan lambung, gangguan tidur, serta keluhan emosi. Terapi dilakukan melalui stimulasi titik korespondensi pada tangan dan kaki menggunakan teknik penekanan manual dengan probe, aplikasi biji-bijian atau magnet, penggunaan warna, serta Elastic Wire Colour and Tera-Wave Therapy (EWCT).

Menariknya, sebagian besar pasien melaporkan perubahan positif setelah menjalani satu sesi terapi. Beberapa pasien mengungkapkan bahwa rasa nyeri yang sebelumnya mengganggu aktivitas sehari-hari mulai berkurang dan tubuh terasa lebih ringan. Salah satu kasus yang cukup mencuri perhatian adalah nyeri dengan skala 6 yang menjalar pada lengan pasca operasi ca mammae. Setelah dilakukan terapi pada titik korespondensi yang sesuai, pasien menunjukkan penurunan nyeri ke skala 4 hanya dalam waktu 5 menit. 

Pada kegiatan lanjutan tanggal 30 Maret 2026, beberapa pasien kembali mendapatkan layanan terapi Sujok dengan keluhan seperti sakit gigi, sesak nafas, sakit leher, hidung tersumbat, nyeri betis, nyeri telapak kaki. Terapi dilakukan melalui pemijatan titik refleksi menggunakan probe, penempelan biji pada titik sakit korespondensi, serta penggunaan magnet pada titik terapi tertentu. Beberapa pasien melaporkan adanya penurunan intensitas nyeri setelah terapi dilakukan.

Salah satu kasus yang cukup menarik terjadi pada pasien dengan keluhan sakit gigi karena gigi berlubang yang membuat pasien terganggu dalam beraktivitas. Setelah dilakukan simulasi titik korespondensi pada tangan kiri serta penempelan biji pada titik terapi yang relevan, pasien melaporkan penurunan nyeri yang cukup signifikan dalam waktu sekitar 20 – 30 menit. Pada kasus lain, pasien dengan nyeri telapak kaki juga melaporkan bahwa nyeri yang dirasakan berkurang secara signifikan setelah stimulasi titik refleksi dan penempelan biji pada titik terapi tertentu.

Selain memberikan manfaat langsung bagi pasien, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya pengembangan penelitian terkait efektivitas terapi Sujok dalam mengatasi berbagai keluhan kesehatan. Data respons pasien yang diperoleh selama kegiatan akan menjadi bahan kajian lebih lanjut guna mendukung penguatan praktik keperawatan komplementer berbasis bukti.

Bagi mahasiswa, kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang berharga. Mereka menyadari bahwa pendekatan terapi komplementer dapat menjadi alternatif intervensi yang sederhana namun memberikan dampak nyata bagi kenyamanan pasien. Interaksi langsung dengan pasien juga menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya empati, ketelitian, dan pendekatan holistik dalam praktik keperawatan. Melalui pengalaman ini, mahasiswa belajar melihat pasien sebagai individu utuh, bukan sekadar kasus, sehingga setiap tindakan perawatan menjadi lebih bermakna dan berdampak nyata.

Secara lebih luas, kegiatan ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 9 mengenai Inovasi dan Infrastruktur, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kolaborasi antara dunia akademik dan fasilitas pelayanan kesehatan diharapkan terus menghadirkan inovasi pelayanan yang bermanfaat bagi masyarakat.

(Kontributor: Cita Nur Faizah, Esyatulkayyis dan Prof. Intansari Nurjannah, SKp., MNSc., PhD)

Facebook
LinkedIn
WhatsApp
Email
X
Facebook