Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi perhatian utama sistem kesehatan di Indonesia. prevalensi CKD yang terdiagnosis oleh tenaga kesehatan menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. Meskipun angka prevalensi yang terlaporkan relatif rendah, kondisi ini diperkirakan masih merupakan fenomena underdiagnosis, mengingat banyak kasus CKD tidak terdeteksi pada tahap awal dan baru diketahui saat telah memasuki stadium lanjut. Salah satu tantangan utama dalam pengendalian CKD di Indonesia adalah rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat, termasuk pada kelompok remaja, mengenai fungsi ginjal, faktor risiko CKD, serta pentingnya perilaku hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan secara berkala
Fenomena inilah yang melatarbelakangi tim pengabdian masyarakat yang diketuai oleh Melyza Perdana, S.Kep., Ns., MS., Ph.D dari Departemen Keperawatan Medikal Bedah FKKMK UGM untuk melakukan edukasi kesehatan ginjal. Mengusung konsep belajar sambil bermain, Melyza dan tim membawa materi edukasi kesehatan ginjal dalam sebuah papan permainan Ginjalopoly, yang terinspirasi dari permainan monopoly. Tentunya beberapa penyesuaian dilakukan dalam menyusun materi edukasi dalam kerangka permainan yang menarik.
Bertempat di SMP IT Salman Al Farisi, di hari Selasa 28 Juli 2026, sebanyak 120 siswa dari kelas 7 sampai kelas 10 antusias mengikuti kegiatan. Diawali dengan pemaparan edukasi tentang kesehatan ginjal, siswa dibawa pada atmosfer untuk sadar akan kesehatan ginjal, bagaimana menjaga kesehatan ginjal hingga modifikasi gaya hidup untuk ginjal yang lebih baik. Siswa juga dikenalkan dengan permainan Ginjalopoly yang menjadi media pembelajaran pada kegiatan ini.
Ginjalopoly tidak sekedar hiburan, permainan ini dirancang sebagai sarana pembelajaran yang mendorong siswa untuk aktif berdiskusi, menjawab pertanyaan, mengambil keputusan serta memahami konsekuensi dari gaya hidup yang berhubungan dengan kesehatan ginjal. Siswa juga diajak mengenali bagian-bagian ginjal, fungsi ginjal hingga faktor risiko penyakit ginjal. Setiap langkah dalam permainan menstimulasi siswa dalam membentuk kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan ginjal sejak dini. Konsep ini menjadi salah satu terobosan dalam edukasi kesehatan. Dalam penjelasannya, Melyza selaku ketua tim mengatakan bahwa pendekatan melalui permainan menunjukkan bahwa edukasi kesehatan tidak harus selalu dikemas dalam format yang kaku, tetapi dapat dikelas secara inovatif agar mampu menjangkau masyarakat dengan cara yang menyenangkan. Lebih lanjut Melyza mengungkapkan harapannya agar permainan ini dapat diterapkan di sekolah-sekolah untuk menumbuhkan kesadaran kesehatan ginjal sejak dini.
Kehadiran media ginjalopoly menjadi contoh inovasi kesehatan yang menggabungkan unsur pengetahuan, interaksi dan permainan dalam satu pengalaman belajar. Hal ini juga mendapat sambutan positif dari siswa sebagai pengguna media ini. Mereka mengungkapkan ketertarikan mereka dalam belajar kesehatan ginjal melalui media ini. Mereka juga menambahkan bahwa mereka merasa lebih senang dan tidak bosan dengan metode yang ditawarkan melalui ginjalopoly. Banyaknya kebermanfaatan dari kegiatan ini tentunya sangat mendukung ketercapaian SDG’s 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Keterlibatan stakeholder terkait juga harapannya terus berlanjut dan dengan cakupan yang lebih luas guna mendukung ketercapaian SDGs 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
(Kontributor: Melyza Perdana, S.Kep., Ns., MS., Ph.D; Arifin Triyanto, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.MB)