Yogyakarta, 26 Agustus 2026 di tengah rutinitas kerja, sebanyak 41 staf Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta meluangkan waktu untuk mengenal Sujok. Dalam pendekatan Sujok, tangan dan kaki digunakan sebagai area korespondensi tubuh. Melalui kegiatan Sujok at Work: Edukasi dan Praktik Terapi Komplementer di Lingkungan Kerja, mahasiswa Magister Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) mengajak peserta mengenal sekaligus merasakan langsung praktik Sujok sebagai bagian dari edukasi kesehatan komplementer. Kegiatan yang merupakan bagian dari Integrasi penelitian, pengajaran dan pengabmas tahun 2026 ini dilaksanakan dengan pendampingan dari Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., MNSc., Ph.D., selaku dosen pembimbing sekaligus koordinator mata kuliah.
Peserta diperkenalkan pada prinsip dasar Sujok dan pemanfaatan area korespondensi tubuh pada tangan dan kaki, kemudian mengikuti sesi sesuai keluhan yang disampaikan. Kegiatan dilakukan secara individual oleh mahasiswa Magister Keperawatan FK-KMK UGM, yaitu Fattiya Nurul Izzah, Andi Mutiara Muthahharah, Fawad Hussain, dan Mazhar Ali Khan, di bawah pendampingan Prof. Intansari Nurjannah dari Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas.
Setiap sesi diawali dengan identifikasi keluhan dan pengkajian awal, dilanjutkan dengan penentuan area korespondensi serta pemilihan teknik sesuai kebutuhan peserta. Teknik yang digunakan meliputi pemijatan, terapi warna, penempelan biji, dan magnet. Keluhan peserta beragam, mulai dari nyeri punggung, bahu, leher, tangan dan kaki hingga keluhan pencernaan, sakit kepala, stres, dan kecemasan.
Pada keluhan yang dapat dinilai menggunakan skala, pengukuran dilakukan sebelum dan setelah sesi untuk mengetahui perubahan yang dirasakan. Catatan kegiatan menunjukkan perubahan skor pada sejumlah keluhan. Salah seorang peserta dengan nyeri punggung, misalnya, melaporkan perubahan skala dari 6 menjadi 3 serta merasa lebih rileks dan nyaman. Respons tersebut dicatat sebagai pengalaman subjektif peserta setelah mengikuti sesi, bukan sebagai bukti bahwa Sujok menyembuhkan penyakit.
Pengalaman serupa disampaikan E (28 tahun) staf Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dalam wawancara langsung setelah kegiatan. “Manfaat terapi dapat langsung dirasakan setelah pelaksanaan. Tubuh terasa lebih rileks, nyaman, dan ada perubahan pada keluhan yang saya rasakan,” ungkapnya. Ia juga berharap kegiatan serupa dapat menjangkau masyarakat lebih luas. “Harapannya, kegiatan pengabdian masyarakat ini ke depannya dapat dilaksanakan di tempat lain sehingga Sujok lebih dikenal,” ujarnya.
Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi kesempatan menerapkan pembelajaran terapi komplementer dalam situasi nyata, mulai dari pengkajian hingga edukasi kesehatan. Kolaborasi FK-KMK UGM dan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta ini juga selaras dengan SDG 3: Good Health and Well-being melalui edukasi kesehatan dan kesejahteraan, SDG 11: Sustainable Cities and Communities melalui penguatan literasi kesehatan di lingkungan kerja, serta SDG 17: Partnerships for the Goals melalui kemitraan institusi pendidikan dan instansi kesehatan.
Dari meja kerja hingga titik-titik pada tangan dan kaki, Sujok at Work mempertemukan edukasi, praktik terapi komplementer, dan pengalaman peserta. Sujok diperkenalkan secara aman dan bertanggung jawab sebagai pendekatan komplementer untuk mendukung kenyamanan dan kesejahteraan, bukan pengganti pemeriksaan, konsultasi, maupun pengobatan medis. Tim menyampaikan apresiasi kepada Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dan seluruh peserta atas keterbukaan, antusiasme, serta partisipasi selama kegiatan.