“Singgah untuk Salat, Mengenal Sujok di Masjid Nurul Ashri”

Mahasiswa Magister Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkenalkan terapi Sujok kepada masyarakat melalui kegiatan pengabdian masyarakat di Masjid Nurul Ashri, Yogyakarta, Selasa (25/8/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WIB tersebut mendapat antusiasme warga dan jemaah masjid yang tertarik mengenal terapi komplementer serta memperoleh informasi mengenai kesehatan dan perawatan tubuh. Kegiatan ini turut melibatkan mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan FKKMK UGM yang berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan bersama mahasiswa Magister Keperawatan.

Sejumlah jemaah yang melihat kegiatan tersebut turut menyempatkan diri untuk mendengarkan penjelasan mahasiswa setelah menunaikan salat. Pengurus masjid membantu mengarahkan warga dan jemaah yang ingin mengetahui lebih lanjut maupun mengikuti sesi terapi.

Suasana Masjid Nurul Ashri tampak berbeda pada Selasa siang. Selain menjadi tempat ibadah, masjid tersebut menjadi ruang berlangsungnya kegiatan pengabdian masyarakat yang menghadirkan pengenalan terapi Sujok bagi masyarakat umum.

Sujok diperkenalkan sebagai salah satu terapi komplementer yang berasal dari Korea Selatan dengan konsep keterkaitan titik-titik pada tangan dan kaki dengan bagian tubuh tertentu. Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan sesi terapi selama kurang lebih 30 menit yang dilakukan pada bagian tangan dan kaki oleh mahasiswa yang telah mendapatkan pembekalan keterampilan Sujok. Respons peserta terhadap terapi kemudian dicatat berdasarkan pengalaman subjektif yang mereka rasakan selama dan setelah sesi terapi.

Kegiatan juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memberikan edukasi sederhana mengenai kesehatan dan perawatan tubuh. Peserta dapat berdiskusi secara langsung dan menyampaikan keluhan yang dirasakan sebelum mengikuti sesi terapi.

Salah seorang peserta mengaku mengalami kekakuan dan nyeri pada ibu jari yang membuat jarinya sulit ditekuk dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Setelah mengikuti sesi terapi, ia mengatakan bahwa gerakan ibu jarinya terasa lebih leluasa dan keluhan nyeri berkurang.

“Saya senang sekali, sekarang jari saya sudah bisa ditekuk dan nyerinya berkurang. Saya juga berencana ikut terapi lagi kalau ada kegiatan seperti ini,” ujarnya.

Tim pengabdian masyarakat menegaskan bahwa pengalaman peserta terhadap terapi bersifat subjektif dan kegiatan ini bukan merupakan pengganti pemeriksaan maupun pengobatan medis. Peserta yang mengalami keluhan menetap atau memburuk tetap dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Antusiasme juga mendapat respons positif dari pengurus Masjid Nurul Ashri. Pengurus menilai kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada warga untuk memperoleh informasi kesehatan dan mengenal terapi komplementer yang masih baru bagi sebagian masyarakat.

“Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat untuk masyarakat kami. Warga terlihat antusias, apalagi saat dijelaskan tentang terapi Sujok. Banyak yang penasaran dan langsung ingin mencoba,” tutur pengurus masjid.

Pengurus masjid berharap kegiatan pengabdian masyarakat serupa dapat dilaksanakan kembali dengan cakupan layanan yang lebih luas. Selain terapi Sujok, pemeriksaan kesehatan dasar seperti pengukuran tekanan darah diharapkan dapat menjadi bagian dari kegiatan berikutnya, terutama untuk menjangkau warga lanjut usia.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pengenalan terapi Sujok, tetapi juga membuka ruang interaksi antara mahasiswa dan masyarakat dalam suasana yang terbuka. Jemaah yang awalnya datang untuk beribadah dapat memperoleh informasi kesehatan dan berpartisipasi secara spontan setelah melihat kegiatan yang berlangsung.

Kehadiran kegiatan kesehatan di lingkungan masjid juga menunjukkan bahwa ruang komunitas dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi dan interaksi sosial. Dukungan pengurus masjid membantu menciptakan suasana yang kondusif sehingga warga dapat bertanya, memperoleh informasi, dan mengikuti kegiatan sesuai kebutuhannya.

Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pendidikan sekaligus berinteraksi secara langsung dengan masyarakat. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari integrasi penelitian, pengajaran, dan pengabdian masyarakat tahun 2026, dengan melibatkan Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., MNSc., PhD. selaku dosen pengampu mata kuliah Complementary and Alternative Therapy sekaligus dosen pendamping kegiatan. Sementara itu, bagi masyarakat, kegiatan tersebut memberikan pengalaman untuk mengenal terapi komplementer serta meningkatkan perhatian terhadap kesehatan diri.

Tim pengabdian masyarakat menyampaikan apresiasi kepada Pengurus Masjid Nurul Ashri atas ruang dan dukungan yang diberikan selama kegiatan. Ke depan, kegiatan pengabdian masyarakat terkait terapi Sujok diharapkan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan melalui edukasi dan pendampingan kepada masyarakat. Keberlanjutan program ini diharapkan dapat memperluas pemahaman masyarakat mengenai terapi komplementer khususnya  terapi Sujok sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari kontribusi UGM terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pengenalan terapi komplementer dan edukasi kesehatan kepada masyarakat sejalan dengan SDG 3: Good Health and Well-Being, sementara keterlibatan mahasiswa dalam praktik langsung di masyarakat mendukung SDG 4: Quality Education melalui pembelajaran berbasis pengalaman. Kolaborasi antara mahasiswa, dosen, pengurus masjid, dan masyarakat juga mencerminkan SDG 17: Partnerships for the Goals, yang menekankan pentingnya kemitraan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Facebook
LinkedIn
WhatsApp
Email
X
Facebook