Sebanyak 15 anggota lansia Grup Waludiman mengikuti kegiatan terapi Sujok yang dilaksanakan pada Kamis, 27 Agustus 2026, mulai pukul 07.30 WIB, bertempat di kediaman salah satu warga di Jalan Anugerah, Prenggan, Kecamatan Kotagede, Kota Yogyakarta. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa dan dosen Program Studi Magister Keperawatan (PSMK), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai bagian dari upaya memberikan edukasi dan layanan terapi komplementer yang dapat mendukung kesehatan lansia.
Kegiatan ini penting dilakukan di lingkungan Grup Waludiman karena kelompok lansia merupakan komunitas yang relatif sering mengalami berbagai keluhan kesehatan, terutama nyeri dan ketidaknyamanan pada sistem muskuloskeletal, seperti nyeri lutut, pegal, atau keluhan pada anggota gerak. Kehadiran terapi Sujok menjadi salah satu pendekatan komplementer yang diperkenalkan untuk membantu mengurangi keluhan tersebut sekaligus meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pilihan perawatan komplementer yang dapat dilakukan secara tepat dan aman.
Peserta tidak hanya datang untuk memperoleh pelayanan kesehatan, tetapi juga berkesempatan mengenal salah satu pendekatan terapi komplementer melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan oleh mahasiswa Program Studi Magister Keperawatan UGM. Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan keperawatan secara langsung di tengah masyarakat, dengan tetap memperhatikan kondisi dan kenyamanan setiap peserta.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Integrasi Penelitian, Pengajaran, dan Pengabdian Masyarakat Tahun 2026 Program Studi Magister Keperawatan FKKMK UGM. Pelaksanaannya dikoordinasikan oleh dosen koordinator mata kuliah, Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., MNSc., PhD, serta didampingi langsung di lapangan oleh dosen pembimbing, Purwanta, S.Kp., M.Kes. Mahasiswa S1, Aulia Mayshalwa Az Zahra, turut membantu jalannya terapi. Ketiganya hadir langsung dalam pelaksanaan kegiatan terapi Sujok tersebut.
Sebelum terapi diberikan, mahasiswa berinteraksi dengan peserta untuk menggali keluhan yang dirasakan, kemudian melakukan terapi dengan pendekatan yang ramah dan komunikatif. Kenyamanan peserta menjadi salah satu perhatian utama selama proses berlangsung.
Salah satu peserta menceritakan pengalamannya setelah mengikuti terapi sujok. Sebelum menerima terapi, ia mengeluhkan nyeri pada pergelangan kaki serta rasa sakit pada bagian belakang leher yang cukup mengganggu kenyamanannya dalam beraktivitas. Setelah mendapatkan terapi, kedua keluhan tersebut dirasakan berkurang. Meskipun pengalaman tersebut bersifat subjektif, respons positif ini menunjukkan bahwa kegiatan terapi mendapatkan penerimaan yang baik dari masyarakat.
“Setelah diberikan terapi sujok, rasa nyeri di pergelangan kaki saya terasa berkurang. Bagian belakang leher yang sebelumnya sakit juga terasa lebih baik. Terapi ini sangat bermanfaat bagi saya,” ungkap salah satu peserta.
Ia juga mengapresiasi sikap mahasiswa yang ramah dan memberikan pelayanan dengan baik sehingga ia merasa nyaman selama mengikuti terapi. “Petugas yang memberikan terapi juga sangat ramah. Saya merasa nyaman selama mengikuti terapi. Menurut saya, terapi seperti ini sangat bermanfaat dan saya berharap ke depannya kegiatan seperti ini dapat diadakan kembali,” lanjutnya.
Antusiasme peserta turut dirasakan oleh pengurus setempat yang mendukung pelaksanaan kegiatan dengan menyediakan lokasi. Menurut pengurus, masyarakat memberikan respons positif dan menunjukkan ketertarikan terhadap terapi sujok yang diberikan oleh mahasiswa. “Kegiatan terapi sujok ini mendapat antusiasme yang baik dari masyarakat. Menurut kami, kegiatan ini sangat bermanfaat karena masyarakat mendapatkan kesempatan untuk mencoba terapi secara langsung,” ujar pengurus setempat. Ia berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara rutin. “Harapannya, terapi seperti ini dapat lebih sering diadakan, misalnya seminggu sekali, sehingga masyarakat dapat terus mengikuti dan merasakan manfaatnya,” tambahnya.
Bagi mahasiswa Magister Keperawatan UGM, kegiatan ini tidak hanya menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga pengalaman berharga dalam membangun komunikasi dan hubungan terapeutik dengan peserta. Interaksi secara langsung memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami keluhan kesehatan yang dialami masyarakat sekaligus memberikan pelayanan dengan pendekatan yang humanis. Kegiatan ini juga memperlihatkan pentingnya keterlibatan institusi pendidikan dalam mendukung upaya peningkatan kesehatan masyarakat, di mana pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh mahasiswa selama pendidikan dapat diimplementasikan untuk memberikan manfaat nyata.
Sebagian peserta melaporkan berkurangnya keluhan setelah mengikuti sesi terapi, sehingga mereka dapat kembali beraktivitas dengan lebih nyaman. Bagi banyak peserta, kegiatan ini menjadi pengalaman pertama mengenal terapi Sujok sebagai pilihan perawatan komplementer yang aman dan mudah diterapkan.
Manfaat kegiatan ini tidak berhenti pada sesi terapi semata. Para lansia turut memperoleh bekal pengetahuan dan keterampilan dasar terapi Sujok yang dapat dipraktikkan sendiri di rumah untuk mengatasi keluhan ringan sehari-hari. Hal ini memberi mereka cara yang lebih mandiri dan praktis dalam menjaga kesehatan, sekaligus meningkatkan pemahaman bahwa terapi komplementer dapat menjadi pendukung, bukan pengganti, penanganan medis oleh tenaga kesehatan profesional.
Bagi mahasiswa Magister Keperawatan FKKMK UGM, kegiatan ini menjadi pengalaman belajar yang berharga dalam berinteraksi langsung dengan kelompok lansia. Melalui kegiatan ini, mahasiswa mengasah kemampuan komunikasi, empati, serta keterampilan klinis dalam memberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing peserta, di bawah bimbingan dosen pendamping. Pelaksanaan kegiatan di rumah salah satu warga turut menciptakan suasana yang hangat dan akrab, sekaligus mempermudah akses layanan bagi anggota Grup Waludiman, khususnya kelompok lansia yang rentan terhadap keluhan muskuloskeletal.
Kegiatan terapi Sujok bersama anggota lansia Grup Waludiman menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi mahasiswa dan dosen Program Studi Magister Keperawatan FKKMK UGM dalam mendekatkan edukasi dan pelayanan kesehatan komplementer kepada masyarakat. Melalui kegiatan ini, para lansia tidak hanya memperoleh pengalaman terapi untuk membantu mengurangi keluhan yang dirasakan, tetapi juga pengetahuan sederhana yang dapat mendukung upaya menjaga kesehatan secara mandiri.
Antusiasme dan respons positif dari peserta menunjukkan bahwa kegiatan berbasis kebutuhan masyarakat seperti ini memiliki peluang untuk terus dikembangkan. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak masyarakat, dengan tetap memperhatikan aspek keamanan, kondisi kesehatan peserta, serta pendampingan tenaga kesehatan. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas diharapkan terus menjadi ruang bagi penerapan ilmu keperawatan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kompetensi akademik, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata, humanis, dan relevan bagi masyarakat.
Kegiatan terapi Sujok bersama anggota lansia Grup Waludiman juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Good Health and Well-Being melalui edukasi dan pengenalan pendekatan komplementer yang dapat mendukung upaya masyarakat dalam menjaga kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup, terutama pada kelompok lansia. Keterlibatan mahasiswa dalam memberikan pelayanan sekaligus memperoleh pengalaman belajar secara langsung di lingkungan masyarakat turut mendukung SDG 4: Quality Education, melalui penerapan pengetahuan dan keterampilan keperawatan dalam pembelajaran berbasis pengalaman. Selain itu, keterlibatan dosen, mahasiswa, dan komunitas Grup Waludiman dalam kegiatan pengabdian masyarakat mencerminkan SDG 17: Partnerships for the Goals, melalui kolaborasi antara institusi pendidikan dan masyarakat dalam mendukung upaya peningkatan kesehatan berbasis komunitas.