FK-KMK UGM dan BKKBN DIY Perkuat Fasilitator Sekolah Lansia di Gunungkidul

Gunungkidul, 22 September 2026 — Menyiapkan masyarakat menghadapi meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia membutuhkan kolaborasi dan sumber daya manusia yang mampu menggerakkan pemberdayaan lansia di tingkat komunitas. Semangat tersebut diwujudkan melalui Training of Trainers (ToT) Fasilitator Sekolah Lansia Kabupaten Gunungkidul yang diselenggarakan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) FK-KMK UGM bekerja sama dengan BKKBN DIY dan IRL.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 21–22 September 2026, di Kapanewon Saptosari, Gunungkidul, tersebut diikuti oleh 32 peserta. Peserta merupakan calon fasilitator Sekolah Lansia dari lima kapanewon, yaitu Saptosari, Semanu, Panggang, Paliyan, dan Tanjungsari, serta dua perwakilan dari BKKBN Kabupaten Gunungkidul.

Membangun fasilitator, memperkuat pemberdayaan lansia

Kegiatan ToT secara resmi dibuka oleh Ketua Perwakilan BKKBN DIY, Ibu Rohina, M.Si., Panewu Saptosari, Bapak Eka Prayitno, S.Sos., serta Tim Pengabmas FK-KMK UGM.

Dalam pembukaan, para peserta diajak melihat Sekolah Lansia bukan sekadar sebagai tempat memberikan informasi kesehatan, tetapi sebagai ruang pembelajaran dan pemberdayaan yang memungkinkan lansia tetap aktif, mandiri, sehat, dan berkontribusi di tengah masyarakat.

Kehadiran fasilitator yang kompeten menjadi bagian penting dalam memastikan program tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan. Karena itu, ToT dirancang untuk membekali peserta dengan pengetahuan sekaligus keterampilan praktis dalam memfasilitasi pembelajaran kelompok lansia.

Belajar melalui praktik dan berbagi pengalaman

Selama dua hari, peserta mengikuti rangkaian pembelajaran yang dikemas secara interaktif melalui pemaparan materi, diskusi, simulasi, praktik fasilitasi, dan kerja kelompok.

Pendekatan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk mempraktikkan secara langsung keterampilan yang dibutuhkan seorang fasilitator. Peserta juga berdiskusi mengenai berbagai kondisi dan kebutuhan lansia di wilayah masing-masing.

Pertukaran pengalaman antarpeserta menjadi salah satu bagian menarik dalam pelatihan. Perbedaan karakteristik masyarakat di Saptosari, Semanu, Panggang, Paliyan, dan Tanjungsari memberikan perspektif bahwa pengembangan Sekolah Lansia perlu memperhatikan konteks dan potensi masing-masing wilayah.

Dari pelatihan menuju gerakan di masyarakat

ToT ini tidak berhenti pada peningkatan kapasitas peserta. Setelah mengikuti pelatihan, para peserta diharapkan mampu menjadi motor penggerak Sekolah Lansia di wilayah masing-masing serta melakukan transfer pengetahuan dan keterampilan kepada kader dan masyarakat.

Kolaborasi FK-KMK UGM, BKKBN DIY, BKKBN Kabupaten Gunungkidul, pemerintah kapanewon, dan masyarakat menjadi kekuatan penting dalam membangun ekosistem yang mendukung lansia.

Sekolah Lansia diharapkan dapat menjadi ruang bagi lansia untuk terus belajar, bersosialisasi, menjaga kesehatan, mengembangkan kemandirian, serta tetap berkontribusi dalam keluarga dan masyarakat.

Memperkuat peran lansia dalam masyarakat

Bagi FK-KMK UGM, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi untuk menghadirkan kontribusi nyata melalui pengabdian kepada masyarakat. Kemitraan dengan BKKBN dan pemerintah daerah juga menjadi langkah strategis untuk memperkuat program yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup lansia.

Melalui fasilitator yang telah dipersiapkan, diharapkan tumbuh lebih banyak ruang pembelajaran bagi lansia di Gunungkidul. Dengan demikian, lansia tidak hanya dipandang sebagai kelompok yang membutuhkan pelayanan, tetapi juga sebagai bagian penting dari masyarakat yang memiliki pengalaman, potensi, dan peran sosial.

Upaya memperkuat pemberdayaan lansia melalui Sekolah Lansia juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Penguatan kapasitas fasilitator untuk mendukung lansia agar tetap sehat, mandiri, aktif, dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat berkontribusi pada SDG 3: Good Health and Well-Being. Proses pelatihan dan transfer pengetahuan kepada fasilitator, kader, serta masyarakat turut mendukung SDG 4: Quality Education melalui pembelajaran sepanjang hayat dan peningkatan kapasitas di tingkat komunitas. Sementara itu, kerja sama antara FK-KMK UGM, BKKBN, pemerintah kapanewon, dan masyarakat memperkuat SDG 17: Partnerships for the Goals, dengan membangun kolaborasi yang mendukung keberlanjutan program pemberdayaan lansia.

Dari Saptosari, semangat pemberdayaan lansia diharapkan terus bergerak ke berbagai wilayah Gunungkidul—membangun lansia yang sehat, mandiri, aktif, produktif, dan bermakna.

 

(Kontributor: Dr. Akhmadi, S.Kp., M.Kes., M.Kep., Sp.Kep.Kom.)

Facebook
LinkedIn
WhatsApp
Email
X
Facebook