
Lulusan Program Studi Ilmu Keperawatan UGM, Zufa Pasha Sabina menjadi peraih IPK tertinggi dengan indeks kumulatif 4,00 pada wisuda periode II tahun ajaran 2025/2026, Rabu, 25 Februari 2026 di Auditorium Grha Sabha Pramana. Sarjana asal Kebumen ini menjadi satu-satunya peraih IPK 4,00 dalam periode wisuda kali ini. Ia mengaku sempat tak menyangka bisa mencapai angka tersebut. “Senang pastinya. Aku pikir nggak bakal sampai 4, tapi ternyata bisa juga,” ujarnya. Dengan sistem blok, beban SKS yang padat, serta jadwal kuliah yang intens, ia merasa IPK 4,00 bukan target yang mudah.
Dibalik capaian akademiknya, ada sosok ibu yang menjadi alasan utama ia bertahan. Karena itu, setiap kali merasa lelah atau kehilangan semangat, ia selalu mengingat kembali tujuan awalnya masuk PSIK UGM. “Aku pengin lihat ibu senang. Yang berjuang di sini bukan cuma aku, tapi ibuku juga,” ujar sarjana asal Kebumen ini. Menurutnya, keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan juga bentuk bakti atas perjuangan sang ibu. Namun, ia juga menyadari bahwa perjalanan kuliahnya tidak hanya ditopang oleh ibunya seorang. Sejak awal hingga akhirnya menyelesaikan studi, bude dan pakde dari keluarga ibunya turut hadir memberi dukungan, bantuan, dan semangat. Kini, ia hanya memiliki ibu sebagai orang tua, tetapi kehadiran bude dan pakde menjadi bagian penting dari kekuatan yang membantunya bertahan dan menyelesaikan pendidikan, sehingga perjuangan selama ini sesungguhnya adalah perjuangan bersama.Mahasiswa tersebut menilai tantangan terbesar selama kuliah bukanlah ekspektasi orang lain, melainkan menjaga konsistensi diri. Ia merasa perjuangan terberat adalah melawan rasa malas. “Lebih sulit mempertahankan konsistensi. Itu kayak ngelawan diri sendiri biar nggak malas. Karena dari konsistensi itu IPK juga mengikuti,” ungkapnya.
Dalam menghadapi ujian yang berlangsung tiap bulan atau setiap blok, ia menerapkan pola belajar bertahap. Ia berusaha menyicil materi setiap minggu agar tidak kewalahan saat mendekati ujian. “Sebisa mungkin tiap minggu belajar. Minimal baca satu-dua halaman, itu juga progress,” tuturnya. Dengan cara tersebut, ketika masa ujian tiba, ia hanya perlu mengulang materi yang sudah dipelajari. Ia meyakini belajar sedikit demi sedikit lebih efektif dibanding belajar mendadak.
Dalam menjalani proses perkuliahan, Zufa juga tak menampik pernah merasa hampir menyerah. Banyaknya tugas, materi yang menumpuk, serta kegiatan non-akademik membuatnya sempat burnout.Ia bercerita bahwa saat itu ia memilih tetap tenang dan mengerjakan tugas satu per satu sesuai target. “Pelan aja nggak apa-apa, yang penting sesuai target. Semuanya pasti selesai dan terlewati,” ujarnya. Ketika rasa lelah terasa berat, ia memberi dirinya waktu untuk beristirahat sejenak, berjalan-jalan, atau memberikan self-reward kecil sebelum kembali fokus.
Selama menempuh pendidikan, ia menyadari banyak hal yang harus dikorbankan—waktu, tenaga, hingga pikiran. Ia menyebutkan bahwa saat mahasiswa lain sudah menikmati libur semester, ia dan teman-temannya masih harus mengikuti perkuliahan. Meski demikian, ia menilai seluruh pengorbanan itu sepadan dengan hasil dan ilmu yang diperoleh.
Baginya IPK hanyalah angka. Angka yang menyimpan kilas balik seluruh proses selama masa studi S1. Menurutnya, IPK menjadi simbol dari konsistensi dan kesabaran yang dijalani selama bertahun-tahun. “Nilai itu nunjukin hasil konsistensi dan sabar yang luar biasa,” tambahnya.
Jika dapat berbicara kepada dirinya di awal masa kuliah, ia mengatakan ingin mengucapkan terima kasih karena sudah mampu bertahan hingga titik ini. Ia juga menyadari bahwa IPK memang penting, tetapi bukan segalanya. “IPK itu penting, tapi itu bukan segalanya. Tetap jadi manusia yang berguna dan tetap membumi,” pesannya.
Untuk adik tingkat, ia mengingatkan bahwa konsistensi adalah kunci. Lelah adalah hal yang wajar, tetapi setiap proses, menurutnya, akan terbayar pada waktunya. Ia pun menutup dengan pesan sederhana: jangan sombong dan tetap rendah hati dalam setiap pencapaian.
(pic by: Akira Photography)