
Keluhan kebas dan kaku pada tangan yang dialami seorang wanita (54 tahun) berhasil hilang hanya dalam waktu sekitar lima menit setelah mendapatkan stimulasi terapi Sujok dari mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) Universitas Gadjah Mada. Pasien yang sebelumnya menilai tingkat ketidaknyamanan pada skala 5 (0–10) melaporkan bahwa setelah terapi dilakukan, keluhan kebas tidak lagi dirasakan dan tangan terasa lebih ringan digerakkan.
Pengalaman tersebut terjadi dalam kegiatan praktik terapi Sujok yang dilaksanakan mahasiswa PSIK Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM di SMPIT Salman Al Farisi Boarding School Yogyakarta pada Jumat (6/3). Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu secara langsung di lapangan sekaligus menghadirkan layanan terapi kesehatan tradisional bagi masyarakat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program PLPS Magang Terapi Sujok (PMTS) FK-KMK UGM yang dikoordinasikan oleh Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., MNSc., PhD dari Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas dan Departemen Keperawatan Medikal Bedah. Mahasiswa juga mendapatkan pendampingan dari para dosen PSIK FK-KMK UGM, yaitu Dr. Ibrahim Rahmat, S.Kp., M.Kes., Purwanta, S.Kp., M.Kes., Dr. Akhmadi, S.Kp., M.Kes., M.Kep., Sp.Kep.Kom., serta Melyza Perdana, S.Kep., Ns., MSc., PhD.
Sebanyak sekitar 40 peserta dari berbagai kelompok usia mengikuti terapi ini, mulai dari remaja hingga lansia. Peserta berasal dari warga sekitar, pengurus sekolah, guru, hingga para siswa. Keluhan yang paling banyak disampaikan antara lain nyeri punggung, pegal pada bahu dan leher, sakit kepala, serta kelelahan akibat aktivitas sehari-hari.
Terapi Sujok yang diperkenalkan oleh Prof. Park Jae Woo sejak tahun 1987 dilakukan dengan menstimulasi titik korespondensi pada tangan dan kaki yang merepresentasikan bagian tubuh tertentu. Stimulasi dilakukan menggunakan alat sederhana seperti probe, pijatan titik, penempelan biji atau magnet. Dalam kegiatan ini juga digunakan Elastic Wire Colour and Tera-Wave Therapy (EWCT) berwarna biru, inovasi terapi Sujok yang dikembangkan oleh Prof. Intansari Nurjannah pada tahun 2025.

Respons cepat juga terlihat pada pasien lain (wanita 41 tahun) yang datang dengan keluhan nyeri dari bahu menjalar ke jari dengan skala 9. Setelah dilakukan stimulasi pada titik yang sesuai, nyeri yang dirasakan menurun drastis menjadi skala 0 setelah 35 menit pemberian terapi.
Menurut Prof. Intansari Nurjannah, kegiatan ini memberikan pengalaman belajar langsung bagi mahasiswa sekaligus memperkenalkan pelayanan kesehatan tradisional komplementer kepada masyarakat. “Melalui praktik langsung seperti ini, mahasiswa dapat melihat respons pasien terhadap terapi yang diberikan sekaligus memahami pentingnya pendekatan holistik dalam pelayanan kesehatan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman belajar langsung di lapangan, tetapi juga melihat bagaimana pendekatan pelayanan kesehatan tradisional komplementer dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Praktik ini sekaligus menunjukkan bahwa integrasi ilmu keperawatan, inovasi terapi, dan keterlibatan masyarakat dapat menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan bersama.
Kegiatan praktik terapi Sujok ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya peningkatan kesehatan masyarakat, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pemanfaatan inovasi terapi Sujok, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara mahasiswa, dosen, dan institusi pendidikan.
(Kontributor: Artalitha Bintang Maulidinna, Arrifa Ilyana Cholarin, dan Prof. Intansari Nurjannah, SKp., MNSc., PhD)