Program Studi Ilmu Keperawatan FK-KMK UGM terus menunjukkan komitmennya dalam mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat melalui penyelenggaraan layanan terapi Sujok. Program ini dirancang sebagai wadah bagi mahasiswa keperawatan untuk mempraktikkan terapi komplementer secara langsung, sekaligus menjadi langkah nyata dalam meningkatkan kompetensi klinis mereka. Melalui stimulasi titik korespondensi pada tangan, mahasiswa belajar memberikan penanganan holistik terhadap berbagai keluhan kesehatan masyarakat dengan tetap mengutamakan kenyamanan dan kesejahteraan pasien.
Dalam pelaksanaan kegiatan tanggal 9 Mei 2026 ini, tercatat sebanyak lebih dari 20 pasien menerima layanan terapi. Sejalan dengan prinsip CARE bagi lansia yang diusung institusi, mayoritas partisipan merupakan kelompok usia di atas 50 tahun. Berdasarkan hasil pengkajian di lapangan, keluhan fisik yang paling banyak dilaporkan oleh pasien adalah gangguan pada area ekstremitas, baik bagian atas maupun bawah, yang sering kali menghambat produktivitas warga di masa senja.
Metode terapi yang diterapkan mahasiswa meliputi teknik sistem korespondensi yang dipersonalisasi sesuai kebutuhan individu. Intervensi dimulai dengan pemijatan menggunakan probe pada titik refleksi di tangan untuk mencari titik paling sensitif yang berkorelasi dengan area tubuh yang sakit. Setelah titik ditemukan, mahasiswa menempelkan biji-bijian sebagai stimulator alami untuk memberikan tekanan konsisten. Metode terapi lainnya adalah dengan menempelkan magnet atau menggunakan Elastic Wire Colour and Tera-Wave Therapy (EWCT). Teknik praktis ini terbukti efektif memberikan perawatan dan dapat diintegrasikan dengan intervensi farmakologis pereda nyeri.
Efektivitas signifikan dari aksi ini terlihat jelas pada salah satu pasien, Ibu D, yang mengalami nyeri dan kekakuan pada lutut kanan terutama setelah berjalan lama. Sebelum mendapatkan terapi, Ibu D melaporkan skala nyeri di angka 6. Namun, hanya dalam waktu 5 menit setelah intervensi Sujok dilakukan, skala nyeri menurun menjadi 4, dan setelah 15 menit, nyeri tersebut berkurang drastis hingga menyentuh angka 3.
Secara keseluruhan, mayoritas pasien mengalami penurunan skala nyeri rata-rata 2 hingga 3 poin segera setelah sesi berakhir. Pasien yang awalnya merasa kaku kini merasakan sensasi yang lebih “enteng” dan nyaman pada anggota gerak mereka. Pencapaian ini tidak hanya memberikan manfaat kesehatan fisik bagi warga, tetapi juga mendukung tujuan global dalam Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 mengenai kehidupan sehat dan sejahtera, serta SDG 17 melalui kemitraan yang kuat antara institusi pendidikan dan masyarakat lokal.
Kontributor: Latifa Hanum Sabrina, Maharani Amrita Yogheswari, dan Prof Intansari Nurjannah, SKp., MNSc., PhD