Dari Kampus ke Komunitas: Mahasiswa PSIK UGM Layani 23 Lansia dengan Terapi Sujok di RW 6 Mantrijeron

Pada hari Sabtu, 25 April 2026, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) menyelenggarakan layanan Terapi Sujok sebagai bagian dari Pembelajaran di Luar Program Studi Program Magang Terapi Sujok (PLPS PMTS) bertempat di RW 6 Kecamatan Mantrijeron. Kegiatan ini menjadi bagian dari integrasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menggabungkan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam satu aktivitas nyata yang berdampak langsung bagi pasien.

Sebanyak 14 orang mahasiswa Ilmu Keperawatan Universitas Gadjah Mada berbondong-bondong datang ke RW 6 Kecamatan Mantrijeron didampingi oleh terapis Sujok BNSP yang juga adalah dosen FK-KMK UGM yaitu Ibu Janatin Hastusi, S.Si., M.Kes., Ph.D. dari Departemen Gizi Kesehatan. Pelaksanaan terapi berlangsung bersamaan dengan kegiatan lain seperti posyandu lansia yang diselenggarakan oleh Layanan Lansia Terpadu (LLT).

Dalam kegiatan ini, sebanyak 23 pasien mendapatkan pelayanan Terapi Sujok dengan berbagai keluhan, terutama nyeri muskuloskeletal seperti nyeri punggung bawah, nyeri lutut, serta pegal pada anggota gerak. Terapi dilakukan melalui stimulasi titik refleksi menggunakan teknik probe untuk pemijatan serta penempelan biji-bijian pada titik yang sesuai dengan sistem Sujok.

Di antara puluhan pasien yang ditangani, terdapat dua kasus yang cukup mencolok dan menjadi sorotan dalam kegiatan ini.

Kasus pertama adalah seorang bapak berusia 62 tahun yang datang dengan keluhan nyeri punggung bawah akibat aktivitas bersepeda sehari-hari. Skala nyeri awalnya tercatat 10, termasuk kategori nyeri berat. Terapi yang diberikan meliputi pemijatan menggunakan probe serta penempelan biji pada titik refleksi yang sesuai, dengan sistem Sujok yang digunakan adalah Triorigin yang mewakili meridian di Su kanan dan Su kiri, serta pemijatan pada area J13 yang berkorespondensi dengan punggung bawah. Setelah kurang lebih 15 menit, pasien melaporkan penurunan skala nyeri menjadi 5 — sebuah perbaikan yang cukup signifikan dalam waktu yang singkat.

Kasus kedua tidak kalah menarik. Seorang ibu rumah tangga berusia 69 tahun datang dengan keluhan serupa, yaitu nyeri punggung bawah dengan skala awal 5. Setelah diberikan terapi dengan pendekatan yang sama, nyeri yang dirasakannya hilang sepenuhnya hingga skala nyeri menjadi 0. Respons yang luar biasa ini menjadi bukti nyata bahwa intervensi komplementer sederhana dapat memberikan dampak yang berarti, bahkan bagi pasien lanjut usia.

Salah satu hal yang menjadi kesan tersendiri dalam kegiatan ini adalah suasana yang tercipta antara mahasiswa dan para lansia. Banyak pasien yang tidak hanya datang untuk diterapi, tetapi juga berbagi cerita tentang kondisi kesehatan mereka, kebiasaan sehari-hari, hingga pengalaman hidup yang mereka jalani. Momen ini menciptakan interaksi yang hangat dan penuh kemanusiaan, melampaui sekadar hubungan terapis dan pasien.

Bapak Tasnim selaku Manajer Operasional Layanan Lansia Terpadu (LLT) turut menyambut baik kehadiran para mahasiswa. Beliau mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dalam memberikan pelayanan terapi Sujok yang dinilai memberikan manfaat nyata bagi para lansia di wilayah tersebut.

Bagi para mahasiswa, kegiatan ini bukan sekadar praktik teknis. Pengalaman berhadapan langsung dengan pasien — mendengar cerita mereka, memahami kondisi kesehatan dari sudut pandang kehidupan nyata, sekaligus memberikan edukasi kesehatan secara langsung — menjadi pembelajaran yang tidak bisa didapat di dalam kelas.

“Saya senang karena saya juga ikut belajar dari pasien yang saya terapi, soal penyakit dan gaya hidup mereka. Saya juga senang bisa mengedukasi mereka,” ungkap salah satu mahasiswa yang turut terlibat dalam kegiatan ini.

Interaksi langsung dengan pasien lansia tidak hanya membangun keterampilan klinis, tetapi juga empati dan kepercayaan diri mahasiswa dalam menghadapi praktik nyata di lapangan. Kegiatan seperti ini mempertegas bahwa pembelajaran keperawatan yang bermakna terjadi ketika mahasiswa hadir langsung di tengah masyarakat.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini turut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui layanan kesehatan komplementer bagi lansia, SDG 9 (Inovasi dan Infrastruktur) melalui penerapan pendekatan terapi inovatif yang berbasis bukti, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui sinergi antara institusi pendidikan, fasilitas kesehatan, dan komunitas masyarakat.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga hadir langsung di tengah masyarakat untuk memberikan manfaat nyata — satu sentuhan terapi sederhana yang berdampak besar bagi kualitas hidup para lansia.

(Kontributor: Ahmad Imami Tauhiedullah, Adhara Stevian Maharani, Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., MNSc., Ph.D.)

Facebook
LinkedIn
WhatsApp
Email
X
Facebook