Kegiatan Posyandu Lansia di Puskesmas Mantrijeron, Yogyakarta pada Selasa, 5 Mei 2026 menjadi salah satu wadah pelayanan kesehatan yang tidak hanya berfokus pada pemeriksaan rutin, tetapi juga menghadirkan terapi komplementer bagi masyarakat. Pada kesempatan ini, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) FK-KMK UGM turut berkontribusi melalui pemberian terapi “Su Jok” sebagai bagian dari kegiatan Pembelajaran di Luar Program Studi (PLPS).
Program Magang Terapi “Su Jok” ini merupakan bentuk integrasi antara pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, dan penelitian. Kegiatan ini dikoordinatori oleh Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., M.NSc., Ph.D., yang tidak hanya berperan sebagai supervisor, tetapi juga terlibat langsung dalam memberikan terapi kepada pasien selama kegiatan berlangsung.
Keterlibatan langsung dosen dalam praktik memberikan pengalaman belajar yang lebih komprehensif bagi mahasiswa, khususnya dalam memastikan ketepatan teknik terapi serta kualitas pelayanan kepada masyarakat. Mahasiswa tidak hanya mengaplikasikan teori yang telah dipelajari, tetapi juga mengembangkan keterampilan klinis dan komunikasi terapeutik secara langsung di lapangan.
Pelaksanaan kegiatan di Posyandu Lansia ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berinteraksi dengan kelompok usia lanjut yang umumnya memiliki berbagai keluhan kesehatan, terutama yang berkaitan dengan nyeri muskuloskeletal akibat proses degeneratif, aktivitas sehari-hari, maupun kelelahan otot. Berdasarkan hasil pelayanan, keluhan yang paling banyak disampaikan peserta didominasi oleh nyeri lutut, pegal pada kaki dan betis, nyeri pada telapak kaki, keluhan tangan dan bahu, nyeri leher, serta pegal pada punggung. Selain itu, beberapa peserta juga mengeluhkan kesemutan, kebas, kram otot, dan sensasi panas pada telapak kaki. Keluhan-keluhan tersebut diduga berkaitan dengan faktor usia, aktivitas berulang, postur tubuh yang kurang ergonomis, gangguan sirkulasi darah, serta ketegangan otot dan saraf perifer yang sering dialami lansia.
Di tengah berbagai keluhan tersebut, terapi Su Jok hadir sebagai pendekatan nonfarmakologis yang sederhana namun memberikan pengalaman baru bagi peserta. Selama terapi berlangsung, antusiasme peserta terlihat jelas. Banyak lansia mengikuti setiap tahapan terapi dengan penuh perhatian. Sejumlah peserta menyampaikan sensasi hangat pada titik terapi, rasa berdenyut, hingga sensasi seperti tertarik pada area yang diberikan stimulasi. Tidak sedikit pula yang mengungkapkan bahwa tubuh terasa lebih ringan, lebih rileks, dan keluhan nyeri yang sebelumnya dirasakan mulai berkurang setelah terapi dilakukan. Respons tersebut menunjukkan bahwa terapi komplementer seperti Su Jok dapat diterima dengan baik oleh masyarakat sekaligus berpotensi menjadi alternatif pendamping dalam pengelolaan nyeri secara holistik.
Lebih dari sekadar pelayanan kesehatan, kegiatan ini memberikan dampak yang luas bagi masyarakat maupun mahasiswa. Bagi peserta Posyandu Lansia, kegiatan ini membuka wawasan mengenai terapi komplementer yang aman, mudah diterapkan, dan dapat menjadi salah satu upaya menjaga kualitas hidup di usia lanjut. Sementara bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi sarana belajar nyata untuk mengintegrasikan ilmu, keterampilan, seta nilai-nilai empati dalam pelayanan keperawatan berbasis komunitas. Pelaksanaan program ini juga sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan derajat kesehatan masyarakat, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran kontekstual berbasis praktik lapangan, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara akademisi, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam membangun pelayanan kesehatan yang lebih holistik dan berkelanjutan.
(Kontributor: Amelia Noor Izza Putri, Annisa Nurlaila Jauhar dan Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., M.NSc., Ph.D.,)