| |

Aortha: Setetes Darah untuk Menolong Sesama, Wujud Nyata Dukungan terhadap SDGs Poin ke-3

Divisi Sosial dan Pelayanan Masyarakat (Sospelmas) telah melaksanakan kegiatan Aortha (A
Drop of Our Blood, To Help a Life) pada hari Jum’at, 20 Juni 2025 di Gedung Radioputero
Lantai 1. Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap sesama melalui aksi donor
darah yang bekerjasama dengan UPTD RSUD Dr. Sardjito. Dalam pelaksanaannya, kegiatan
ini berhasil mengumpulkan sebanyak 44 kantung darah yang nantinya akan sangat bermanfaat
bagi pasien yang membutuhkan transfusi darah.

Kegiatan donor darah ini tidak hanya menjadi wujud solidaritas sosial, tetapi juga mendukung
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-3, yaitu “Kehidupan Sehat dan Sejahtera”
(Good Health and Well-Being). Tujuan ini berfokus pada peningkatan derajat kesehatan
masyarakat secara global, termasuk upaya menurunkan angka kematian dan meningkatkan
akses terhadap pelayanan kesehatan. Melalui kegiatan Aortha, Divisi Sospelmas ikut
berkontribusi dalam menyediakan stok darah yang aman dan memadai, sehingga dapat
menyelamatkan banyak nyawa.


Selain manfaat medis, kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran masyarakat, khususnya
generasi muda, tentang pentingnya berbagi dan menjaga kesehatan diri. Dengan melakukan
donor darah secara rutin, pendonor tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga memantau
kondisi kesehatannya sendiri melalui proses pemeriksaan yang dilakukan sebelum donor.
Dengan semangat kemanusiaan dan kepedulian sosial, Aortha menjadi bukti bahwa aksi
sederhana seperti mendonorkan darah dapat memberikan dampak besar bagi pencapaian
SDGs poin ke-3. Diharapkan kegiatan ini dapat terus berlanjut dan menginspirasi lebih banyak
pihak untuk berpartisipasi dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, peduli, dan berdaya.

Penulis: Anggita Najwa Cahya Malihah, Velent Nasywa Nugrahani, Putri Dwi Lestari, Ully Sudrajat, Ema Nabila Musfiqoh, Reviola Putri

#SDGs #SDGs3 #SDGs3: Good Health and Well-Being

Similar Posts

  • | | | |

    Pendaftaran MBKM Emergency and Disaster Health Management in Community-Based

    Program MBKM Emergency and Disaster Health Management in Community-Based telah resmi dibuka. Program ini dapat menjadi kesempatan bagi mahasiswa yang ingin memperdalam ilmu keperawatan kebencanaan dan kedaruratan.

    ⛑️Kualifikasi:
    -Mahasiswa S1 FK-KMK UGM
    -Menempuh pendidikan minimal 5 semester
    -Pelaksanaan mulai April – Juli 2025

    ⛑️Benefit yang akan didapat antara lain:
    -Pengalaman magang di BPBD, PSC, dan desa tanggap bencana
    -Menyusun proyek tanggap bencana
    -Pengalaman bekerja tim dan pembelajaran soft-skills
    -E-Sertifikat
    -Penyetaraan SKS hingga 10 SKS

    ⛑️Cakupan kegiatan
    Kegiatan akan dilakukan bekerjasama dengan mitra PSC, BPBD Provinsi DIY, dan Kalurahan Donokerto.

    Kuota hanya untuk 30 mahasiswa
    Pendaftaran paling lambat tanggal 24 Januari 2025 melalui link berikut: bit.ly/mbkm_emergencypsik

  • | | |

    Penerimaan Mahasiswa Baru Program Studi Magister Keperawatan Semester Gasal Tahun 2024/2025

    Pendaftaran Mahasiswa Baru Program Studi Magister Keperawatan (PSMK) FKKMK UGM sebentar lagi dibuka. Berikut kami sampaikan jadwal Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2024/2025.

    Jadwal Pendaftaran:
    Gelombang 1: 20 Feb – 13 Mar 2024
    Gelombang 2: 26 Mar – 16 Apr 2024
    Gelombang 3: 30 Apr – 21 Mei 2024
    Gelombang 4: 11 Jun – 2 Jul 2024

    Catat tanggal-tanggal penting, dan segera siapkan persyaratan pendaftarannya sampai terlewat.

    “Jadilah bagian dari generasi perawat masa depan! Ayo bergabung dengan Program Studi Magister Keperawatan. Daftarkan dirimu sekarang untuk tahun akademik 2024/2024.

    Informasi seputar Penerimaan Mahasiswa Baru dan Pendaftaran dapat di simak di laman: https://um.ugm.ac.id

    Yang ingin tahu lebih lanjut mengenai PSM dapat di baca di laman: https://nursing.fkkmk.ugm.ac.id/s2-psmk/

  • | | |

    Implementasi Terapi Sujok untuk Meningkatkan Kualitas Kesehatan pada Lansia Ngentak, Sapen

    Kesehatan masyarakat merupakan salah satu aspek penting dalam upaya meningkatkan kualitas hidup, khususnya pada kelompok usia dewasa dan lansia yang rentan mengalami keluhan fisik akibat aktivitas sehari-hari maupun kondisi penyakit kronis. Dalam rangka upaya mendukung upaya promotif dan preventif di masyarakat, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan FK-KMK UGM melaksanakan kegiatan pelayanan terapi tradisional berupa terapi Sujok di Balai Pertemuan RT/RW 01 Ngentak, Sapen pada Rabu (8/4) yang merupakan lingkup dari Puskesmas Depok 3.

    Kegiatan ini merupakan bagian dari Program PLPS Magang Terapi Sujok FK-KMK UGM yang dikoordinasikan dan didampingi oleh Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., MNSc., PhD. Tujuan kegiatan ini untuk memberikan alternatif intervensi non farmakologis dalam membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan umum yang dialami masyarakat. Selain itu, kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran berbasis praktik bagi mahasiswa dalam mengaplikasikan pendekatan keperawatan holistik di masyarakat.

    Berdasarkan data terdapat 22 pasien menerima layanan terapi Sujok. Selama kegiatan berlangsung ditemukan bahwa keluhan yang paling dominan adalah masalah muskuloskeletal, seperti nyeri lutut, baik pada lutut kanan maupun kiri. Nyeri tersebut umumnya dirasakan saat melakukan aktivitas seperti berjalan dalam waktu lama, beribadah (bersujud), maupun saat perubahan posisi dari duduk ke berdiri. Selain itu, masyarakat juga melaporkan keluhan lain berupa nyeri pada bahu, punggung bawah, kaki, serta tumit, yang sebagian besar berkaitan dengan aktivitas fisik berulang dan kondisi kelelahan. Keluhan lain yang dilaporkan adalah pusing dan sakit kepala yang mengarah pada gejala vertigo. Beberapa anggota masyarakat juga mengaitkan keluhan tersebut dengan riwayat penyakit seperti hipertensi dan kolesterol yang tinggi.

    Intervensi yang diberikan berupa terapi Sujok, yaitu metode terapi tradisional yang dilakukan melalui stimulasi titik-titik koresponden pada tangan (su) dan kaki (jok) yang merepresentasikan organ tubuh tertentu yang disebut dengan Sujok koresponden. Pada kondisi tertentu, ditambahkan juga terapi menggunakan Sujok Triorigin. Teknik yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi penekanan titik refleksi menggunakan probe, penempelan biji pada titik nyeri, penggunaan magnet terapi, serta penggunaan Elastic Wire Colour and Tera-Wave Therapy (EWCT). Meskipun respon terhadap terapi bervariasi secara individual, secara rata-rata intensitas keluhan mulai menunjukkan penurunan dalam waktu 30 menit setelah intervensi diberikan. 

    Terdapat satu kasus yang menarik perhatian dari kegiatan ini yaitu lansia berusia 83 tahun datang dengan keluhan selama 2 bulan merasakan sakit di lutut kirinya saat lutut ditekuk dan melakukan sujud. Keluhan tersebut disebabkan oleh trauma psikologis yaitu jatuh dari motor. Pada awal sebelum dilakukannya terapi lansia tersebut mengatakan sakit berada di skala 5 lalu diberikan terapi pemijatan dengan probe, pemberian warna, dan penempelan biji pada basic correspondence su kiri. Setelah dilakukannya intervensi, walaupun keluhan tidak menurun langsung secara drastis, lansia menunjukkan penurunan gejala yang cenderung progresif pada setiap 5 menit, 15 menit, dan 30 menit yang ditunjukkan pada penurunan skala sakit dari awal keluhan disebutkan. Hal ini menonjol dibandingkan dengan rata-rata subjek lainnya yang membutuhkan waktu pemulihan lebih lama. 

    Kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan teori yang telah dipelajari, tetapi juga menjadi proses pembelajaran dalam menghadapi realita di lapangan. Melalui interaksi langsung dengan masyarakat dan kolaborasi tim, mahasiswa belajar bahwa keberhasilan sebuah program sangat bergantung pada komunikasi yang efektif dan kemampuan adaptasi yang cepat. Pengalaman ini juga menyadarkan mahasiswa bahwa tantangan terbesar bukanlah pada teknis pelaksanaan, melainkan bagaimana menjaga konsistensi dan empati di setiap pelayanan yang diberikan.

    Selain memberikan manfaat klinis, kegiatan ini juga berkontribusi terhadap pencapaian beberapa nilai SDGs diantaranya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 9 : Inovasi dan Infrastruktur, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. 

    (Kontributor: Herawati Kahartan, Izdihar Najwa, Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., MNSc., PhD.)

  • | | |

    Program Gamatirta sebagai Implementasi dalam Mewujudkan Desa Tangguh Bencana yang Optimal, Tersistem, dan Terintegrasi

    Tirtohargo, Kretek, Bantul. Kamis (9/6) Tim PKM-PM GAMATIRTA “Gerakan Masyarakat Tirtohargo Tangguh Bencana” melangsungkan program pelatihan kesiapsiagaan bencana, meliputi Pertolongan Pertama Gawat Darurat dan Psychological First Aid diikuti oleh workshop serta simulasi langsung oleh Kader FPRB (Forum Pengurangan Risiko Bencana) berkolaborasi dengan BPBD DIY dan PSIK FK-KMK.

    Program tersebut digagas oleh Tim Gamatirta yang terdiri dari Ferdinan Eka (Geofisika’19), Faiz Indra (PSIK’19), Nadia Safa (PSIK’19), Afif Arrahul (Psikologi’19), dan Sekar Arvianda (Psikologi’20), dengan pembimbing Bpk Sutono, S.Kp., M.Sc.,M.Kep. Gamatirta sendiri bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keterampilan kesiapsiagaan bencana alam masyarakat Desa Tirtohargo melalui perpanjangan tangan dari Kader FPRB desa setempat.

    “Gamatirta merupakan solusi alternatif yang aplikatif dalam mempersiapkan Desa Tirtohargo menghadapi potensi ancaman bahaya gempa bumi dan tsunami. Terlebih, desa ini memang sangat rentan terpapar potensi kedua bencana tersebut apabila dilihat dari lokasinya yang berbatasan langsung dengan zona subduksi di selatan Jawa dan dekat dengan zona Sesar Opak” ujar Ferdinan Eka selaku ketua Tim Gamatirta.

    “Sebagai salah satu upaya mitigasi untuk mengurangi korban jiwa akibat bencana, Gamatirta menjadi aksi yang relevan dan mudah untuk dilakukan. Harapannya, dengan adanya program Gamatirta ini dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat Desa Tirtohargo dalam menghadapi potensi ancaman gempa bumi dan tsunami melalui FPRB-nya”  ucap Ferdinan Eka selaku Ketua Tim Gamatirta.

    Lebih dari 25 orang Kader FPRB turut berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan program yang terdiri dari Sembada (Seminar kebencanaan dan dampaknya), Pelita (Pelatihan Tangguh Bencana), dan Simultan (Simulasi Tanggap Bencana). Program unggulan tersebut diiringi dengan beberapa program penunjang, seperti peninjauan sarana prasarana dan fasilitas (papan informasi, plangisasi, dan inventarisasi alat P3K), penanaman mangrove massal bersama komunitas magrove desa setempat, dan pemberian booklet pedoman/buku saku kebencanaan kepada Kader FPRB untuk mendukung keberlanjutan serta kemandirian Program Gamatirta.

    Gagasan Gamatirta berasal dari kondisi geografis Desa Tirtohargo, Kretek, Bantul yang menjadi salah satu wilayah pesisir Pantai Pulau Jawa dan gempa bumi megathrust yang berpotensi menimbulkan bencana alam tsunami. Ditambah dengan kondisi demografis masyarakat desa setempat yang belum memiliki kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang cukup dalam meminimalisir risiko bencana alam dari segi fisik dan psikologis.

    “Program penanggulangan bencana saat ini sudah bergeser dari yang semula difokuskan di respon akut, menjadi peningkatan mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Mengacu kepada Sendai Framework, fokus penanggulangan bencana saat ini adalah Disaster Risk Reduction (DRR), dimana program pengurangan risiko bencana menjadi fokus utama dalam penanggulangan bencana secara umum” ujar Pak Sutono selaku dosen pembimbing tim.

    “Ada tiga komponen penting yang menjadi variable dari Risiko bencana yaitu Hazard/Ancaman, Kerentanan dan Kapasitas. Hazard mungkin sulit untuk dikendalikan, tetapi kerentanan dapat diintervensi dengan melakukan pemberdayaan dan management kelompok rentan yang baik, sehingga nilai kerentanan bisa ditekan serendah mungkin. Sementara itu kapasitas, bisa ditingkatkan dengan peningkatan literasi dan pelatihan-pelatihan. Dengan demikian Risiko bencana bisa menjadi turun” tambah Pak Sutono selaku dosen pembimbing tim.

    Langkah awal yang dilakukan ialah melakukan identifikasi kebutuhan dan masalah, didapatkan bahwa aktivitas dan arah gerak Kader FPRB desa setempat belum optimal/berdaya. Selain itu, pelatihan kesiapsiagaan bencana yang dilakukan juga belum masif dan komprehensif sehingga terbilang eksistensi Kader FPRB belum terlihat.

    “Kami melakukan identifikasi permasalahan diikuti oleh survei dan observasi yang selanjutnya ditindaklanjuti untuk menyusun rencana aksi program agar dapat terlaksana secara masif, proaktif, partisipatif, serta tepat sasaran” ujar Faiz anggota Tim Gamatirta.

    Dari beragam problem hasil identifikasi permasalahan, selanjutnya dipilihlah topik manajemen kegawatdaruratan yang meliputi Pertolongan Pertama Gawat Darurat dan Psychological First Aid yang kemudian ditindaklanjuti melalui rencana aksi dan program inovatif. Rencana aksi tersebut disusun sebagai upaya mewujudkan Desa Tirtohargo menjadi Desa Tangguh Bencana ditinjau dari segi sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sarana prasarana/fasilitas penunjang mitigasi kebencanaan.

    “Kami mengapresiasi program dalam konteks pengabdian masyarakat yang ditujukan masyarakat dan kader FPRB di Desa Tirtohargo, Bantul. Paradigma sekarang berubah yang semula masyarakat itu ditolong, sekarang menolong. Program ini kami dukung sekali karena masyarakat bisa terlatih dan terampil sehingga bisa menjadi tangguh menjadi garda terdepan dalam menghadapi ancaman atau potensi bencana” ujar Pak Enaryaka perwakilan BPBD DIY.

    “Ditambah..dengan peran serta dari organidasi terkait, lembaga, usaha, pemerintah, serta kalurahan dalam menjalin keberlangsungan proses mitigasi dan kesiapsiagaan bencana di Desa Tirtohargo ini” tambah Pak Petrus Ketua Kader FPRB.

    “Kami mengucapkan banyak terima kasih atas partisipasi tim UGM yang ikut serta memikirkan hutan mangrove dan kelestarian lingkungan hidup, harapan kami penanaman mangrove dapat menanggulangi bencana di wilayah kami sehingga dengan penanaman mangrove ombak air laut bisa terhalangi oleh hutan mangrove, semoga tim UGM mendapat pahala dari Allah SWT dan sukses selalu untuk teman-teman dari UGM” apresiasi Kepala Desa Tirtohargo, Bantul.

    Dalam mewujudkan Desa Tangguh Bencana, program gamatirta memiliki potensi dan kemampuan meningkatkan komunikasi risiko bencana, meminimalisir risiko dan dampak bencana, menumbuhkan kesadaran; kepekaan; dan modal sosial, mengimplementasikan praktik mitigasi bencana sesuai teori yang tepat, dan mewujudkan derajat kesehatan secara holistik (fisik, spiritual, sosial, dan spiritual).

    Harapannya, dengan dilaksanakan program pelatihan yang diikuti oleh seminar dan simulasi kebencanaan (PPGD dan PFA) Kader FPRB memiliki kemampuan dan kapasitas dalam melaksanakan praktik Pertolongan Pertama Gawat Darurat serta Psychological First Aid sesuai intrepretasi teori yang baik dan benar. Selain itu, program yang sudah dilaksanakan hendaknya bisa ditindaklanjuti dan dikaji lebih lanjut oleh stakeholder desa mitra setempat agar dapat menunjang aspek kebermanfaatan, keterlibatan, dan keberlanjutan. [Faiz Indra (psik’19)]

  • | | |

    Welcoming Greeting: Menyambut Mahasiswa Baru sebagai Agent of Change dalam Keperawatan di Masa Depan

    Sleman, 10 Agustus 2024 – Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Keperawatan (HMPK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar acara Welcoming Greeting dengan tema “Welcoming Agent of Change in Future Nursing”. Kegiatan ini bertujuan untuk menyambut 48 mahasiswa baru Program Studi Pascasarjana Keperawatan (PSMK) UGM Tahun 2024 dengan suasana yang hangat dan bersahabat.

    Mahasiswa baru PSMK UGM Tahun 2024 datang dari berbagai penjuru Indonesia, mulai dari pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, hingga Papua. Keberagaman latar belakang ini diharapkan akan memperkaya pengalaman dan perspektif di lingkungan akademik PSMK. Tidak hanya itu, tahun ini PSMK UGM juga menyambut seorang mahasiswa asing, Bonifacio De Jesus Viegas, yang berasal dari Timor Leste. Kehadiran Boni menandakan semakin luasnya jangkauan dan daya tarik program studi ini di kancah internasional, sekaligus menegaskan komitmen PSMK UGM dalam mendukung pendidikan global.

    Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid ini berlangsung di Auditorium Ismangoen Lt. 3 FK-KMK UGM dan melalui platform Zoom. Rangkaian kegiatan dimulai pada Pkl. 09.00 WIB, dipandu oleh pembawa acara yaitu Dana Prayoga Irawan, S.Kep., Ns. dan Ayu Anita, S.Kep., Ns.. Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua HMPK UGM tahun 2024 yaitu Afrianti Pakalessy, S.Kep., Ns.. Selanjutnya kegiatan resmi dibuka oleh Penasihat HMPK UGM yaitu Uki Noviana, S.Kep.Ns., MN.Sc., Ph.D., yang memberikan motivasi dan dorongan kepada mahasiswa baru untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan pascasarjana keperawatan UGM dengan baik agar mampu menjadi agent of change dalam Keperawatan di masa depan.

    Sesi sharing diisi oleh dua narasumber berpengalaman, yaitu Novia Faizatiwahida, S.Kep., Ns., M.N.Sc. dan Mahmasoni Masdar, S.Kep., Ns., M.Kep.. Novia, yang merupakan mahasiswa PSMK UGM angkatan 2022 dan berhasil menyelesaikan studinya dalam 3 semester, membagikan pengalamannya mengenai perkuliahan di PSMK UGM. Pada sesi ini, ia mengulas proses belajar, manajemen waktu, penyusunan tesis, serta keterlibatan dalam organisasi selama menjalani studi Magister. Sebagai demisioner pengurus HMPK UGM tahun 2023 dan penerima beasiswa LPDP, Novia juga memiliki minat penelitian di bidang Disaster Nursing, Evaluation of Disaster Training, dan Cardiac Care Nursing. Pengalaman dan pencapaiannya menjadi inspirasi yang berharga bagi mahasiswa baru.

    Melanjutkan sesi sharing, Mahmasoni Masdar, mahasiswa PSMK UGM angkatan 2019 dan demisioner Ketua HMPK UGM tahun 2020, memberikan wawasan mendalam mengenai jenjang karir setelah lulus. Saat ini, Mahmasoni sedang menempuh studi Doktoral di UGM dengan beasiswa LPDP. Adapun fokus penelitian terbarunya yaitu “The Experience of Uncertainty for Patients and Their Family Caregivers Undergoing Hemodialysis in Academic Hospital Universitas Gadjah Mada”. Penjelasan Mahmasoni yang komprehensif menguatkan pandangan para mahasiswa baru tentang pentingnya perencanaan karir dalam keperawatan, sekaligus memberikan gambaran nyata tentang peluang dan tantangan yang akan mereka hadapi.

    Kedua narasumber berhasil menyampaikan materi yang inspiratif, menciptakan suasana yang interaktif selama sesi tanya jawab. Peserta tampak antusias, mengajukan berbagai pertanyaan mendalam dan relevan dengan topik yang dibahas. Selain itu, interaksi semakin hangat ketika peserta diajak berpartisipasi dalam sesi ice breaking dan berbagi video inspiratif dari demisioner HMPK. Momentum ini juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan HMPK lebih jauh, sehingga memotivasi mahasiswa baru agar terlibat aktif dalam organisasi, dengan harapan mereka dapat berkontribusi nyata di lingkungan akademik dan profesional. Semangat para peserta untuk bergabung dengan HMPK semakin terlihat, menunjukkan bahwa kegiatan ini berhasil membangun jejaring komunikasi yang kuat antara mahasiswa baru dan senior.

    Kegiatan ini ditutup dengan foto bersama, menandakan berakhirnya acara dengan lancar dan tepat waktu. “Welcoming Greeting” tidak hanya menjadi ajang penyambutan, tetapi juga menjadi awal dari perjalanan baru bagi mahasiswa dalam mengukir prestasi di bidang keperawatan.

  • | | |

    Tri Dharma dalam Aksi: Terapi Sujok di RSUP Dr. Sardjito

    Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) melalui mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat selama dua sesi yaitu hari Senin, 16 Maret dan 30 Maret 2026 di RSUP Dr. Sardjito. Kegiatan ini menjadi bagian dari integrasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menggabungkan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam satu aktivitas nyata yang berdampak langsung bagi pasien. Penggunaan pendekatan ini telah memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar sambil beraksi, menerapkan ilmu, mendorong inovasi, dan langsung memberi manfaat bagi kesehatan masyarakat sehingga menjadi sebuah sinergi akademik yang nyata.

    Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mata kuliah elektif: PLPS Program Magang Terapi Sujok, sebuah program pembelajaran berbasis praktik yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan terapi tradisional/komplementer secara langsung di lingkungan rumah sakit. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini didampingi oleh beberapa dosen dari Program Studi Ilmu Keperawatan FK-KMK UGM, diantaranya Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., M.NSc., Ph.D dan Dwi Harjanto, S.Kp., M.Sc. dan sebanyak 18 mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan FK-KMK UGM. Mahasiswa tidak hanya mempraktikkan teknik terapi Sujok, tetapi juga mengasah keterampilan komunikasi terapeutik, kemampuan observasi klinis, serta pemahaman mengenai pendekatan holistik dalam pelayanan kesehatan.

    Pada sesi pelayanan tanggal 16 dan 30 Maret 2026, tercatat sebanyak 20 pasien mendapatkan pelayanan terapi Sujok dengan berbagai keluhan kesehatan. Keluhan yang paling sering ditemukan, antara lain nyeri punggung sendi, nyeri lutut, sakit kepala, keluhan lambung, gangguan tidur, serta keluhan emosi. Terapi dilakukan melalui stimulasi titik korespondensi pada tangan dan kaki menggunakan teknik penekanan manual dengan probe, aplikasi biji-bijian atau magnet, penggunaan warna, serta Elastic Wire Colour and Tera-Wave Therapy (EWCT).

    Menariknya, sebagian besar pasien melaporkan perubahan positif setelah menjalani satu sesi terapi. Beberapa pasien mengungkapkan bahwa rasa nyeri yang sebelumnya mengganggu aktivitas sehari-hari mulai berkurang dan tubuh terasa lebih ringan. Salah satu kasus yang cukup mencuri perhatian adalah nyeri dengan skala 6 yang menjalar pada lengan pasca operasi ca mammae. Setelah dilakukan terapi pada titik korespondensi yang sesuai, pasien menunjukkan penurunan nyeri ke skala 4 hanya dalam waktu 5 menit. 

    Pada kegiatan lanjutan tanggal 30 Maret 2026, beberapa pasien kembali mendapatkan layanan terapi Sujok dengan keluhan seperti sakit gigi, sesak nafas, sakit leher, hidung tersumbat, nyeri betis, nyeri telapak kaki. Terapi dilakukan melalui pemijatan titik refleksi menggunakan probe, penempelan biji pada titik sakit korespondensi, serta penggunaan magnet pada titik terapi tertentu. Beberapa pasien melaporkan adanya penurunan intensitas nyeri setelah terapi dilakukan.

    Salah satu kasus yang cukup menarik terjadi pada pasien dengan keluhan sakit gigi karena gigi berlubang yang membuat pasien terganggu dalam beraktivitas. Setelah dilakukan simulasi titik korespondensi pada tangan kiri serta penempelan biji pada titik terapi yang relevan, pasien melaporkan penurunan nyeri yang cukup signifikan dalam waktu sekitar 20 – 30 menit. Pada kasus lain, pasien dengan nyeri telapak kaki juga melaporkan bahwa nyeri yang dirasakan berkurang secara signifikan setelah stimulasi titik refleksi dan penempelan biji pada titik terapi tertentu.

    Selain memberikan manfaat langsung bagi pasien, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya pengembangan penelitian terkait efektivitas terapi Sujok dalam mengatasi berbagai keluhan kesehatan. Data respons pasien yang diperoleh selama kegiatan akan menjadi bahan kajian lebih lanjut guna mendukung penguatan praktik keperawatan komplementer berbasis bukti.

    Bagi mahasiswa, kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang berharga. Mereka menyadari bahwa pendekatan terapi komplementer dapat menjadi alternatif intervensi yang sederhana namun memberikan dampak nyata bagi kenyamanan pasien. Interaksi langsung dengan pasien juga menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya empati, ketelitian, dan pendekatan holistik dalam praktik keperawatan. Melalui pengalaman ini, mahasiswa belajar melihat pasien sebagai individu utuh, bukan sekadar kasus, sehingga setiap tindakan perawatan menjadi lebih bermakna dan berdampak nyata.

    Secara lebih luas, kegiatan ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 9 mengenai Inovasi dan Infrastruktur, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kolaborasi antara dunia akademik dan fasilitas pelayanan kesehatan diharapkan terus menghadirkan inovasi pelayanan yang bermanfaat bagi masyarakat.

    (Kontributor: Cita Nur Faizah, Esyatulkayyis dan Prof. Intansari Nurjannah, SKp., MNSc., PhD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *