Kondisi fisik yang optimal menjadi salah satu faktor penting dalam menunjang aktivitas sehari-hari, terutama bagi masyarakat yang memiliki berbagai keluhan akibat kelelahan maupun kondisi tertentu. Selain pengobatan, pendekatan nonfarmakologis seperti terapi tradisional dan komplementer dapat menjadi alternatif dalam membantu mengurangi keluhan tersebut. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah terapi Sujok, yang berfokus pada stimulasi titik-titik tertentu pada tangan dan kaki. Berkaitan dengan hal tersebut, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan FK-KMK UGM melaksanakan kegiatan terapi Sujok di Balai Kelurahan Tamanmartani, Sleman pada Jumat, 10 April pukul 08.00-11.30 WIB.
Kegiatan ini dilaksanakan dengan melibatkan 10 mahasiswa yang memberikan pelayanan kepada kurang lebih 40 peserta. Pelaksanaan terapi berlangsung bersamaan dengan kegiatan lain yaitu sosialisasi mengenai manajemen stres, pemeriksaan kesehatan, serta kegiatan senam bersama.
Salah satu kasus yang cukup menarik dalam kegiatan ini adalah seorang pasien yang mengeluhkan nyeri pada area gluteal (pantat) saat duduk dalam waktu lama, terutama ketika beralih dari posisi duduk ke berdiri. Keluhan tersebut cukup mengganggu aktivitas sehari-hari yang banyak dilakukan dalam posisi duduk. Sebelum dilakukan intervensi, pasien menyampaikan bahwa nyeri muncul secara konsisten setiap kali melakukan perubahan posisi. Terapi Sujok kemudian diberikan dengan fokus pada titik-titik korespondensi yang berkaitan dengan area keluhan. Setelah dilakukan terapi, pasien melaporkan adanya penurunan intensitas nyeri yang dirasakan. Perubahan tersebut juga terlihat secara nonverbal, ditandai dengan ekspresi wajah yang lebih rileks serta munculnya senyuman lega setelah intervensi dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa terapi yang diberikan memberikan dampak positif terhadap kenyamanan pasien.
Pelaksanaan kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa dalam mengasah keterampilan praktik serta meningkatkan kemampuan komunikasi dan empati dalam memberikan pelayanan kesehatan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pendekatan yang holistik dan terintegrasi sangat penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Selain itu, kegiatan ini juga berkontribusi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 9 (Inovasi dan Infrastruktur), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
(Kontributor: Putri Adanya Riszky, Syarif Kurniawan Putranto, Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., M.NSc., PhD.)