Implementasi Terapi Sujok untuk Meningkatkan Kualitas Kesehatan pada Lansia Ngentak, Sapen

Kesehatan masyarakat merupakan salah satu aspek penting dalam upaya meningkatkan kualitas hidup, khususnya pada kelompok usia dewasa dan lansia yang rentan mengalami keluhan fisik akibat aktivitas sehari-hari maupun kondisi penyakit kronis. Dalam rangka upaya mendukung upaya promotif dan preventif di masyarakat, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan FK-KMK UGM melaksanakan kegiatan pelayanan terapi tradisional berupa terapi Sujok di Balai Pertemuan RT/RW 01 Ngentak, Sapen pada Rabu (8/4) yang merupakan lingkup dari Puskesmas Depok 3.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program PLPS Magang Terapi Sujok FK-KMK UGM yang dikoordinasikan dan didampingi oleh Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., MNSc., PhD. Tujuan kegiatan ini untuk memberikan alternatif intervensi non farmakologis dalam membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan umum yang dialami masyarakat. Selain itu, kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran berbasis praktik bagi mahasiswa dalam mengaplikasikan pendekatan keperawatan holistik di masyarakat.

Berdasarkan data terdapat 22 pasien menerima layanan terapi Sujok. Selama kegiatan berlangsung ditemukan bahwa keluhan yang paling dominan adalah masalah muskuloskeletal, seperti nyeri lutut, baik pada lutut kanan maupun kiri. Nyeri tersebut umumnya dirasakan saat melakukan aktivitas seperti berjalan dalam waktu lama, beribadah (bersujud), maupun saat perubahan posisi dari duduk ke berdiri. Selain itu, masyarakat juga melaporkan keluhan lain berupa nyeri pada bahu, punggung bawah, kaki, serta tumit, yang sebagian besar berkaitan dengan aktivitas fisik berulang dan kondisi kelelahan. Keluhan lain yang dilaporkan adalah pusing dan sakit kepala yang mengarah pada gejala vertigo. Beberapa anggota masyarakat juga mengaitkan keluhan tersebut dengan riwayat penyakit seperti hipertensi dan kolesterol yang tinggi.

Intervensi yang diberikan berupa terapi Sujok, yaitu metode terapi tradisional yang dilakukan melalui stimulasi titik-titik koresponden pada tangan (su) dan kaki (jok) yang merepresentasikan organ tubuh tertentu yang disebut dengan Sujok koresponden. Pada kondisi tertentu, ditambahkan juga terapi menggunakan Sujok Triorigin. Teknik yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi penekanan titik refleksi menggunakan probe, penempelan biji pada titik nyeri, penggunaan magnet terapi, serta penggunaan Elastic Wire Colour and Tera-Wave Therapy (EWCT). Meskipun respon terhadap terapi bervariasi secara individual, secara rata-rata intensitas keluhan mulai menunjukkan penurunan dalam waktu 30 menit setelah intervensi diberikan. 

Terdapat satu kasus yang menarik perhatian dari kegiatan ini yaitu lansia berusia 83 tahun datang dengan keluhan selama 2 bulan merasakan sakit di lutut kirinya saat lutut ditekuk dan melakukan sujud. Keluhan tersebut disebabkan oleh trauma psikologis yaitu jatuh dari motor. Pada awal sebelum dilakukannya terapi lansia tersebut mengatakan sakit berada di skala 5 lalu diberikan terapi pemijatan dengan probe, pemberian warna, dan penempelan biji pada basic correspondence su kiri. Setelah dilakukannya intervensi, walaupun keluhan tidak menurun langsung secara drastis, lansia menunjukkan penurunan gejala yang cenderung progresif pada setiap 5 menit, 15 menit, dan 30 menit yang ditunjukkan pada penurunan skala sakit dari awal keluhan disebutkan. Hal ini menonjol dibandingkan dengan rata-rata subjek lainnya yang membutuhkan waktu pemulihan lebih lama. 

Kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan teori yang telah dipelajari, tetapi juga menjadi proses pembelajaran dalam menghadapi realita di lapangan. Melalui interaksi langsung dengan masyarakat dan kolaborasi tim, mahasiswa belajar bahwa keberhasilan sebuah program sangat bergantung pada komunikasi yang efektif dan kemampuan adaptasi yang cepat. Pengalaman ini juga menyadarkan mahasiswa bahwa tantangan terbesar bukanlah pada teknis pelaksanaan, melainkan bagaimana menjaga konsistensi dan empati di setiap pelayanan yang diberikan.

Selain memberikan manfaat klinis, kegiatan ini juga berkontribusi terhadap pencapaian beberapa nilai SDGs diantaranya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 9 : Inovasi dan Infrastruktur, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. 

(Kontributor: Herawati Kahartan, Izdihar Najwa, Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., MNSc., PhD.)

Facebook
LinkedIn
WhatsApp
Email
X
Facebook