Departemen Keperawatan FKKMK UGM Menyelenggarakan Seminar Dua Dekade Resiliensi: Refleksi 20 Tahun Gempa Bumi Yogyakarta 2006

Yogyakarta, 25 Mei 2026 — Dua puluh tahun silam, pada 27 Mei 2006, bumi Yogyakarta berguncang dengan kekuatan yang meluluhlantakkan lebih dari 150.000 bangunan dan merenggut lebih dari 5.700 jiwa. Gempa Bumi Yogyakarta 2006 bukan hanya catatan kelam dalam sejarah kebencanaan Indonesia, tetapi juga titik balik yang mengubah cara bangsa ini memandang kesiapsiagaan bencana, terutama dalam konteks sistem kesehatan. Dua dekade berselang, refleksi atas peristiwa tersebut tetap relevan dan mendesak, mengingat Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik yang menjadikan negara yang rentan bencana di dunia. 

Dalam semangat membangun ketangguhan yang berbasis bukti dan berkelanjutan, Departemen Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Seminar dengan tema Refleksi dan Transformasi Keperawatan Bencana Menuju Ketangguhan Berkelanjutan pada Senin, 25 Mei 2026, bertempat di Auditorium Gedung Ismangoen, FK-KMK UGM, dengan format hybrid yang turut dapat diakses secara daring melalui platform Zoom. Total peserta yang hadir sebanyak 126 orang yang terdiri dari mahasiswa, dosen, klinisi maupun masyarakat awam.

Rangkaian acara dimulai dengan adanya menampilkan rangkaian foto dampak dan penanganan gempa di sepanjang pintu masuk gedung Ismangoen yang 20 tahun lalu digunakan sebagai rumah sakit darurat, dilanjutkan dengan mengisi refleksi dan harapan di Wall of Hope. Video dokumenter tentang penanganan bencana gempa 2006 juga ditampilkan di dalam dan di luar ruangan Auditorium. Ketua Departemen Keperawatan Anak dan Maternitas, Ibu Widyawati, S.Kp., M.Kes., Ph.D memimpin 57 detik mengheningkan cipta untuk mengenang para korban sesuai dengan durasi gempa saat itu.

Seminar ini menghadirkan tiga narasumber: Bapak Sutono, S.Kp., M.Sc., M.Kep. dari Departemen Keperawatan Dasar dan Emergensi FK-KMK UGM mengulas ketangguhan perawat dalam situasi krisis bencana, mencakup aspek psikologis, kompetensi klinis, dan kapasitas respons di lapangan. Sementara itu, Bapak Syahirul Alim, S.Kp., M.Sc., Ph.D., memaparkan transformasi pendidikan keperawatan yang terjadi pasca gempa 2006. Yang terakhir, Bapak Agung Wicaksono, S.Sos., MPA dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Yogyakarta membahas dinamika koordinasi lintas sektor dalam penanggulangan bencana dan menyoroti kemajuan kelembagaan sekaligus tantangan yang masih perlu diatasi.

Seminar ini secara langsung berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/SDGs, khususnya SDG 3 tentang Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 11 tentang Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Keperawatan bencana yang berbasis teori dan praktik berkelanjutan menjadi fondasi kritis bagi ketahanan komunitas dalam menghadapi ancaman alam yang tidak dapat dihindari. Refleksi ini tidak hanya untuk menghargai capaian, juga untuk mengidentifikasi kesenjangan yang masih perlu dijembatani, agar respons terhadap bencana mendatang dapat lebih terstruktur, cepat, dan berkeadilan.

 

(Kontributor: Ade Sutrimo, S.Kep., Ns., MSN., Sp.Kep.J.; Melyza Perdana, S.Kep., Ns., M.S., Ph.D.)

Facebook
LinkedIn
WhatsApp
Email
X
Facebook