Sleman, 6 Juni 2026 – Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat yang berjudul “Peningkatan Kesiapsiagaan Bencana Melalui Penyusunan Tas Siaga Bencana (Emergency Kit) dan Pertolongan Pertama Kegawatdaruratan Bagi Ibu PKK Kalurahan Girikerto”. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menghadapi bencana serta kondisi kegawatdaruratan dasar pada situasi bencana.
Kalurahan Girikerto di Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, merupakan salah satu wilayah rawan bencana erupsi Gunung Merapi, di mana wilayah bagian utaranya termasuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) III dengan risiko tinggi terdampak awan panas, aliran lava, dan material vulkanik lainnya. Kondisi ini menuntut masyarakat untuk memiliki kesiapsiagaan yang baik, terutama pada tingkat keluarga sebagai unit terkecil yang berperan dalam menanggapi kondisi darurat. Kegiatan ini menargetkan ibu-ibu PKK Kelurahan Girikerto mengingat peran strategis mereka dalam manajemen keluarga. Sebagai garda terdepan dalam pengambilan keputusan di tingkat rumah tangga serta memiliki tanggung jawab besar dalam mempersiapkan dan melindungi anggota keluarga saat terjadi bencana.
Kegiatan ini diawali dengan pemberian materi dari BPBD DIY mengenai pentingnya kesiapsiagaan bencana di tingkat keluarga. Peserta diberikan pemahaman tentang tingkat status gunung api, kawasan rawan bencana (KRB), serta langkah-langkah yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana. Peserta juga dikenalkan dengan konsep tas siaga bencana (emergency kit) sebagai perlengkapan yang harus disiapkan oleh setiap keluarga untuk mempermudah proses evakuasi saat terjadi bencana.
Selain penyusunan emergency kit, peserta juga mendapatkan materi dan pelatihan mengenai pertolongan pertama pada kondisi kegawatdaruratan. Materi yang diberikan meliputi penanganan luka, pengendalian pendarahan, penanganan patah tulang, dan langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum bantuan medis tiba. Praktik langsung juga dilakukan untuk meningkatkan pemahaman peserta dalam melakukan pertolongan pertama gawat darurat. Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDG’s), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera dan SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan.
Melalui pengetahuan pertolongan pertama kegawatdaruratan, kegiatan ini berperan dalam mencapai SDG 3 yaitu meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menjaga keselamatan dan kesehatan ketika terjadi kegawatdaruratan. Pengetahuan pertolongan pertama dapat membantu mengurangi risiko cedera atau cacat serta dapat mengurangi risiko kematian korban. Sementara itu, edukasi mengenai penyusunan tas siaga bencana (emergency kit) dan edukasi pertolongan pertama kegawatdaruratan juga mendukung tercapainya SDG 11, khususnya dalam membangun komunitas yang lebih siap menghadapi risiko bencana. Peningkatan pengetahuan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang berkelanjutan dan siap dalam menghadapi ancaman bencana.
Melalui kegiatan ini, diharapkan ibu-ibu PKK mampu menjadi penggerak dalam keluarga untuk membangun kesadaran terhadap pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Bekal pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kegiatan diharapkan dapat diterapkan dan dibagikan kepada keluarga dan masyarakat sekitar sehingga masyarakat semakin siap dalam menghadapi situasi bencana. Upaya penguatan kapasitas ini tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat, melainkan juga berperan dalam membangun masyarakat yang lebih tangguh dan berkelanjutan, sejalan dengan pencapaian SDG 3 dan SDG 11.
(Kontributor: Lolita Ayu Maharani, Yolanda Dyah Vitaningrum)