Yogyakarta, 17 Juli 2026 – Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang memerlukan penatalaksanaan jangka panjang. Pada stadium akhir, pasien membutuhkan terapi pengganti ginjal berupa hemodialisis untuk mempertahankan fungsi tubuh. Meskipun memberikan banyak manfaat, hemodialisis juga dapat menimbulkan berbagai komplikasi, salah satunya adalah hipotensi intradialitik, yaitu penurunan tekanan darah yang terjadi selama proses hemodialisis. Kondisi ini dapat menyebabkan pusing, lemas, mual, kram otot, hingga mengganggu efektivitas terapi apabila tidak ditangani dengan tepat.
Sebagai bentuk kontribusi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3: Good Health and Well-being, mahasiswa Program Profesi Ners Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan kegiatan edukasi kesehatan bertajuk “Tetap Nyaman Saat Hemodialisis: Cegah Hipotensi Intradialitik” pada Jumat pagi, 17 Juli 2026, di Unit Hemodialisis RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
Kegiatan edukasi dilaksanakan dengan pendampingan dan arahan dari Kepala Ruangan (Karu) Unit Hemodialisis RSUP Dr. Sardjito, yaitu Ispriyatiningsih, S.Kep., Ns dan Melyza Perdana, S.Kep., Ns., MSc., Ph.D selalu pembimbing akademik. Materi yang disampaikan meliputi pengertian hipotensi intradialitik, penyebab dan faktor risiko, tanda dan gejala, dampak yang dapat ditimbulkan apabila terjadi secara berulang, serta berbagai upaya pencegahan melalui penerapan self-management. Edukasi juga menekankan pentingnya pembatasan asupan cairan sesuai anjuran, kepatuhan menjalani jadwal hemodialisis, pengaturan pola makan, penggunaan obat sesuai petunjuk tenaga kesehatan, serta pentingnya mengenali dan segera melaporkan gejala hipotensi intradialitik kepada perawat.
Untuk mendukung proses penyampaian informasi, mahasiswa Profesi Ners UGM menggunakan media edukasi berupa leaflet yang dirancang dengan bahasa sederhana dan ilustrasi yang menarik sehingga mudah dipahami oleh pasien maupun keluarga. Media tersebut diharapkan dapat menjadi sarana edukasi yang dapat dibaca kembali oleh pasien setelah kegiatan selesai. Kegiatan berlangsung dengan lancar dan mendapat respons yang sangat baik dari peserta. Sejak awal hingga akhir kegiatan, peserta tampak antusias mengikuti penyuluhan, aktif berdiskusi, serta mengajukan berbagai pertanyaan mengenai pengalaman mereka selama menjalani hemodialisis. Beberapa pertanyaan yang disampaikan berkaitan dengan penyebab sembelit pada pasien hemodialisis, cara mengatasi rasa gatal tanpa obat, penanganan kram otot saat dialisis, hingga dampak hipotensi intradialitik apabila terjadi secara berulang.
Suasana diskusi menjadi semakin menarik ketika salah seorang peserta berbagi pengalaman mengenai proses pemanfaatan layanan BPJS Kesehatan selama menjalani terapi hemodialisis rutin. Selain itu, beberapa pasien yang telah lama menjalani hemodialisis turut membagikan pengalaman serta tips menjalani terapi dengan lebih nyaman, seperti membatasi asupan cairan sesuai anjuran, mengurangi konsumsi makanan tinggi garam agar tidak mudah haus, datang tepat waktu sesuai jadwal hemodialisis, serta segera melaporkan keluhan yang dirasakan kepada tenaga kesehatan. Sesi berbagi pengalaman tersebut menciptakan suasana edukasi yang komunikatif dan memberikan motivasi bagi peserta lain untuk semakin disiplin dalam menjalani terapi.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa Profesi Ners UGM tidak hanya berperan sebagai pemberi edukasi, tetapi juga sebagai fasilitator yang mendorong terjadinya pertukaran pengalaman antar pasien. Pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman, memperkuat kemampuan self-management, serta menumbuhkan kepercayaan diri pasien dalam mengelola penyakitnya sehari-hari. Kegiatan edukasi ini menjadi salah satu bentuk implementasi peran perawat dalam upaya promotif dan preventif di pelayanan kesehatan. Dengan meningkatnya literasi kesehatan pasien mengenai hipotensi intradialitik, diharapkan risiko komplikasi selama hemodialisis dapat diminimalkan sehingga terapi dapat berlangsung lebih aman, nyaman, dan optimal. Selain memberikan manfaat bagi pasien, kegiatan ini juga menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa Program Profesi Ners UGM dalam mendukung pencapaian SDGs poin 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan pemberdayaan pasien.
(Kontributor: Arifin Triyanto, S.Kep., Ns. M.Kep., Sp.Kep.M.B.)