Yogyakarta – Sesak napas masih menjadi salah satu keluhan yang paling sering dialami pasien dengan penyakit jantung dan dapat memengaruhi kemampuan beraktivitas, kualitas hidup, serta proses pemulihan pasien. Menjawab kebutuhan tersebut, mahasiswa Profesi Ners UGM menyelenggarakan kegiatan penyuluhan kesehatan bertajuk “Penerapan Inspiratory Muscle Training (IMT) sebagai Terapi Pendamping untuk Mengurangi Sesak Napas pada Pasien dengan Penyakit Jantung” di Poli Rawat Jalan Jantung Terpadu RS Sardjito Yogyakarta, Jumat (7/8/2026) pukul 09.00 WIB.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh mahasiswa Profesi Ners, yaitu Ajeng Agva Destitu, Arla Tyara Pujakusuma, Kaila Fitria Isnain, dan Ratna Vidiastuti, di bawah bimbingan dosen akademik Arifin Triyanto, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.MB. serta dosen pembimbing klinis Sujiati, S.Kep., Ns., M.Kep. Penyuluhan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being) melalui peningkatan literasi kesehatan, pemberdayaan pasien dalam melakukan perawatan mandiri, serta upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan kualitas hidup penyandang penyakit jantung.
Inspiratory Muscle Training (IMT) merupakan metode latihan yang bertujuan meningkatkan kekuatan dan daya tahan otot-otot inspirasi melalui latihan pernapasan. Teknik ini menggunakan pola 3-3-6, yaitu menarik napas selama 3 detik, menahan napas selama 3 detik, kemudian menghembuskan napas perlahan selama 6 detik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa IMT berpotensi membantu menurunkan derajat sesak napas, meningkatkan toleransi aktivitas, memperbaiki kapasitas fungsional, serta mendukung kualitas hidup pasien dengan penyakit kardiovaskular. Oleh karena itu, pemahaman pasien terhadap terapi pendamping berbasis latihan menjadi penting sebagai bagian dari rehabilitasi jantung yang berkelanjutan.
Dalam kegiatan ini, audiens memperoleh edukasi mengenai mekanisme terjadinya sesak napas pada penyakit jantung, pengertian IMT, manfaat latihan, indikasi, serta tata cara pelaksanaan latihan yang aman dan dapat dilakukan secara mandiri di rumah. Penyampaian materi berlangsung secara interaktif dan diselingi sesi diskusi, di mana para audiens aktif mengajukan pertanyaan serta berbagi pengalaman terkait keluhan yang mereka rasakan. Salah seorang audiens menceritakan bahwa sesak napas sering muncul ketika berjalan dalam jarak yang cukup jauh maupun saat menaiki tangga, sehingga aktivitas sehari-hari menjadi lebih terbatas. Sesi berbagi pengalaman tersebut menjadi ruang diskusi yang memperkaya pemahaman audiens mengenai pentingnya pengelolaan gejala secara tepat.
Sebagai bentuk penguatan materi, mahasiswa juga memberikan demonstrasi langsung mengenai teknik IMT. Para audiens tampak antusias mengikuti setiap tahapan latihan dan mempraktikkan pola pernapasan 3-3-6 secara bersama-sama dengan bimbingan mahasiswa. Melalui praktik langsung ini, audiens tidak hanya memahami teori, tetapi juga memperoleh pengalaman melakukan teknik IMT dengan benar sehingga diharapkan lebih percaya diri untuk menerapkannya secara mandiri di rumah. Selain itu, audiens juga dibekali video edukasi yang diproduksi oleh mahasiswa Profesi Ners UGM sebagai panduan latihan mandiri sehingga teknik yang telah dipelajari dapat terus dipraktikkan secara konsisten. Video tersebut dapat diakses pada link berikut ini: https://youtu.be/hW8Wsfe3rJE?si=e_ShBRl6A2VWsxpY.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa Profesi Ners tidak hanya menjalankan peran sebagai pemberi asuhan, tetapi juga sebagai edukator yang menjembatani penerapan ilmu pengetahuan ke dalam praktik pelayanan kesehatan. Diharapkan, edukasi mengenai IMT dapat menjadi bagian dari penguatan program rehabilitasi jantung serta mendorong terbentuknya pasien yang lebih mandiri, aktif, dan berdaya dalam mengelola kesehatannya.
(Kontributor: Ajeng Agva Destitu, S.Kep.; Arla Tyara Pujakusuma, S.Kep.; Kaila Fitria Isnain, S.Kep.; Ratna Vidiastuti, S.Kep.; Arifin Triyanto, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.MB)