“Kenali Demensia Sejak Dini”

Yogyakarta, 30 Juli 2026 – Demensia merupakan salah satu tantangan kesehatan global yang terus meningkat seiring bertambahnya populasi lanjut usia. Kondisi ini ditandai dengan penurunan fungsi kognitif, seperti gangguan memori, bahasa, orientasi, dan kemampuan berpikir yang berdampak pada penurunan kemandirian serta kualitas hidup penderitanya. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai tanda awal, faktor risiko, dan upaya pencegahan menyebabkan banyak kasus demensia terlambat dikenali sehingga penanganan yang optimal menjadi terhambat. Oleh karena itu, edukasi kesehatan menjadi strategi penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini dan pencegahan demensia.

Kegiatan penyuluhan kesehatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 3: Good Health and Well-being, khususnya dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat melalui upaya promotif dan preventif. Selain itu, kegiatan ini juga sejalan dengan SDGs Tujuan 4: Quality Education, yaitu meningkatkan akses terhadap pendidikan kesehatan yang berkualitas bagi pasien dan keluarga sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat dalam menjaga kesehatan otak sepanjang hayat.

Penyuluhan diselenggarakan oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada dalam rangka Stase Keperawatan Medikal Bedah. Kegiatan dilaksanakan pada Kamis, 30 Juli 2026 di Ruang Anggrek 2 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dengan sasaran pasien serta keluarga atau penunggu pasien. Tim pelaksana terdiri atas Eny Indriyati sebagai ketua, Erkham Mahrozi dan Kusnul Hidayati sebagai pemandu sekaligus fasilitator, Endang Fajari K sebagai notulen,observer, dan dokumentasi dibawah bimbingan Siti Nurdjanah, S.Kep., Ns. Sebagai pembimbing klinik serta Heny Suseani Pangastuti, S.Kp., M.Kes selaku pembimbing akademik dari Departemen Keperawatan Medikal Bedah FKKMK UGM.

Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh fasilitator melalui salam, perkenalan, serta penyampaian tujuan dan manfaat penyuluhan. Untuk meningkatkan keterlibatan peserta, dilakukan apersepsi dengan mengajak peserta berbagi pengalaman mengenai gangguan daya ingat dalam kehidupan sehari-hari, seperti lupa meletakkan barang atau lupa terhadap aktivitas yang baru dilakukan. Pendekatan ini membantu peserta menghubungkan materi dengan pengalaman nyata sehingga lebih mudah memahami pentingnya deteksi dini demensia.

Pada sesi inti, narasumber menyampaikan materi mengenai pengertian demensia, perbedaan antara demensia dan kepikunan normal akibat penuaan, faktor risiko, tanda dan gejala awal, dampak terhadap penderita dan keluarga, serta langkah-langkah pencegahan melalui penerapan gaya hidup sehat. Edukasi juga menekankan pentingnya aktivitas fisik, stimulasi kognitif, pengendalian penyakit kronis, pola makan bergizi, serta aktivitas sosial sebagai upaya mempertahankan fungsi otak. Penyampaian materi didukung dengan media leaflet sehingga informasi dapat dipelajari kembali oleh peserta setelah kegiatan selesai.

Interaksi selama penyuluhan berlangsung secara aktif melalui metode ceramah interaktif, diskusi, praktik senam otak, dan sesi tanya jawab. Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga mempraktikkan gerakan senam otak bersama fasilitator sebagai salah satu bentuk latihan sederhana untuk menjaga fungsi kognitif. Pada sesi diskusi, peserta mengajukan berbagai pertanyaan terkait gejala awal demensia serta langkah pencegahan yang dapat diterapkan di rumah. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pengalaman dan menjawab pertanyaan evaluasi sehingga terjadi komunikasi dua arah yang meningkatkan pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan. Sebagai penutup, fasilitator bersama peserta melakukan senam otak bersama, serta melakukan dokumentasi kegiatan.

Kegiatan penyuluhan ini memberikan dampak positif dalam meningkatkan literasi kesehatan pasien dan keluarga mengenai demensia. Peserta memperoleh pengetahuan mengenai faktor risiko, tanda dan gejala awal, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui peningkatan pengetahuan tersebut, diharapkan masyarakat mampu mengenali gejala demensia sejak dini, menerapkan gaya hidup sehat untuk menjaga kesehatan otak, serta memberikan dukungan yang lebih baik kepada anggota keluarga yang berisiko atau telah mengalami demensia. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup individu dan keluarga, tetapi juga mendukung penguatan upaya promotif dan preventif dalam pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya pada populasi lanjut usia.

(Kontributor: Eny Indriyati, S.Kep.; Erkham Mahrozi, S.Kep.; Kusnul Hidayati, S.Kep.; Endang Fajari K, S.Kep.;Dr. Heny Suseani Pangastuti, S.Kp., M.Kes.)

Facebook
LinkedIn
WhatsApp
Email
X
Facebook