“Mengenal Terapi Sujok Bersama Masyarakat di Masjid Jogokariyan”

Belajar terapi komplementer tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Pada 27 Agustus 2026, mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui mata kuliah Complementary Alternative Therapy (CAT) melaksanakan praktik terapi Sujok di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, setelah shalat Dzuhur. kegiatan ini diikuti oleh jamaah masjid maupun masyarakat yang singgah, dengan total 24 peserta yang mendapatkan terapi untuk beragam keluhan.

Pelaksanaan kegiatan melibatkan empat mahasiswa Magister Keperawatan yang tergabung dalam mata kuliah CAT sebagai tim utama di lokasi. Mereka turut didukung oleh mahasiswa Magister Keperawatan lainnya, dua mahasiswa S1 Keperawatan, dan satu mahasiswa S1 Kedokteran yang tergabung dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini didampingi oleh salah satu dosen pengampu mata kuliah Dr.Heny Suseany Pangastuti, S,Kp., M.Kes.

Praktik ini menjadi bagian dari pembelajaran mahasiswa untuk melatih keterampilan melakukan terapi Sujok sekaligus memberikan pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat. Kegiatan tahun 2026 ini merupakan integrasi aspek penelitian, pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat di UGM, dengan pendampingan Dr. Heny Suseany Pangastuti, S.Kp., M.Kes. serta koordinasi mata kuliah Complementary and Alternative Therapy (CAT) oleh Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., MNSc., PhD. Melalui integrasi tersebut, kegiatan tidak hanya menjadi sarana pembelajaran dan pengabdian, tetapi juga berpotensi dikembangkan sebagai bahan penelitian dan publikasi hasil pengabdian .

Masjid Jogokariyan menjadi salah satu ruang yang dipilih untuk mendekatkan praktik terapi komplementer dengan masyarakat. Lokasi tersebut sebelumnya telah beberapa kali menjadi tempat kegiatan mahasiswa sehingga telah terjalin koordinasi dengan komunitas setempat. Selain itu, masyarakat yang hadir juga cukup banyak sehingga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memberikan terapi secara langsung.

Selama kegiatan, peserta memberikan respons yang beragam. Sebagian peserta menyampaikan bahwa setelah terapi mereka merasa lebih rileks dan nyaman, sementara beberapa peserta melaporkan penurunan skala nyeri. Salah seorang peserta melaporkan skala keluhannya berubah dari 6 menjadi 0 setelah sesi. Respons tersebut merupakan pengalaman individual peserta dan tidak digunakan sebagai bukti efektivitas terapi. Salah satu peserta juga menyampaikan keinginannya agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan di masjid lingkungan tempat tinggalnya.

Dalam pelaksanaannya, aspek keamanan tetap menjadi perhatian. Dr. Heny menegaskan bahwa Sujok diberikan sebagai terapi komplementer, bukan terapi alternatif, sehingga tidak menggantikan pengobatan medis yang sedang dijalani peserta. Mahasiswa juga memperhatikan ketepatan titik terapi, kebersihan tangan, serta menyesuaikan tekanan dengan toleransi masing-masing peserta agar tetap aman dan nyaman.

Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi pengalaman untuk membawa pembelajaran dari ruang akademik ke lingkungan masyarakat. Tidak hanya melatih keterampilan terapi, mahasiswa juga belajar membangun komunikasi, memahami kebutuhan peserta, serta memberikan pelayanan dengan memperhatikan keamanan dan kenyamanan. Sementara bagi masyarakat, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mengenal Sujok sebagai salah satu pendekatan terapi komplementer dan merasakan langsung proses terapinya. Dr. Heny berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sehingga Sujok semakin dikenal dan dapat berkontribusi dalam membantu masyarakat mengelola keluhan dari sisi komplementer.

Kegiatan terapi Sujok di Masjid Jogokariyan menjadi salah satu bentuk pembelajaran yang mempertemukan mahasiswa, akademisi, dan masyarakat dalam ruang yang sama. Lebih dari sekedar praktik keterampilan, kegiatan ini menjadi pengalaman bagi mahasiswa untuk belajar dari masyarakat sekaligus menghadirkan kontribusi keperawatan melalui pendekatan komplementer yang dilakukan secara aman, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kebutuhan peserta.

Kegiatan terapi Sujok ini juga sejalan dengan beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Good Health and Well-Being, melalui upaya memperkenalkan pendekatan komplementer yang berorientasi pada kenyamanan dan pengelolaan keluhan masyarakat. Kegiatan ini turut mendukung SDG 4: Quality Education karena memberikan pengalaman pembelajaran berbasis praktik kepada mahasiswa melalui interaksi langsung dengan masyarakat. Selain itu, keterlibatan mahasiswa lintas jenjang dan bidang keilmuan serta kolaborasi antara akademisi dan masyarakat mencerminkan semangat SDG 17: Partnerships for the Goals, yaitu membangun kemitraan dan kolaborasi untuk mendukung tercapainya pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari proses pembelajaran dan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan, kesehatan, dan kolaborasi.

Facebook
LinkedIn
WhatsApp
Email
X
Facebook