Keluhan kesemutan pada jari-jari tangan dan kaki hingga menyebabkan keterbatasan gerak yang dialami oleh seorang wanita (71 tahun) berhasil hilang setelah dilakukan intervensi terapi Sujok oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan FK-KMK UGM. Sebelum dilakukan terapi, pasien mengeluh kesulitan untuk menekuk jari-jari tangan dan kakinya hingga harus dibantu dengan tangan yang lain. Setelah dilakukan terapi Sujok selama 5-10 menit, pasien sudah bisa menekuk jari-jarinya secara mandiri tanpa dibantu
Kegiatan ini dilaksanakan di Masjid Al Hidayah Bakalan, Sawahan, Sewon, yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Sewon I sebagai bagian dari Program PLPS Magang Terapi Sujok FK-KMK UGM di bawah koordinasi dan pendampingan Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., MNSc., PhD. Program ini bertujuan untuk menyediakan alternatif intervensi non farmakologis dalam membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan yang umum dialami masyarakat.
Sebanyak 25 pasien mengikuti layanan ini dengan melibatkan 13 mahasiswa yang berperan aktif dalam memberikan pelayanan terapi. Peserta terapi merupakan lansia yang tinggal di sekitar Masjid Al Hidayah Bakalan. Berdasarkan data, keluhan yang paling banyak dialami oleh pasien adalah nyeri pada sistem muskuloskeletal, khususnya nyeri pada lutut, baik pada lutut kanan maupun kiri. Selain itu, masyarakat banyak mengeluhkan nyeri pada punggung bawah, ekstremitas bawah, serta ekstremitas atas. Pola keluhan ini menunjukkan keterkaitan yang kuat dengan aktivitas fisik berulang, kelelahan, serta kondisi degeneratif yang umum terjadi pada usia lanjut.
Intervensi yang diberikan dalam kegiatan ini berupa terapi Sujok, yaitu metode terapi komplementer yang dilakukan melalui stimulasi titik-titik korespondensi pada tangan (su) dan kaki (jok) yang merepresentasikan bagian tubuh tertentu. Pada beberapa kondisi, intervensi juga dikombinasikan dengan pendekatan Sujok Triorigin. Teknik yang digunakan meliputi penekanan titik refleksi menggunakan alat probe, penempelan biji pada titik yang sesuai, penggunaan magnet terapi, serta aplikasi Elastic Wire Colour and Tera-Wave Therapy (EWCT).
Secara umum, sebagian besar pasien menunjukkan respons positif terhadap terapi yang diberikan. Penurunan keluhan umumnya mulai dirasakan dalam waktu 10-15 menit setelah dilakukan terapi, disertai dengan peningkatan kenyamanan dan fleksibilitas gerak. Selain manfaat klinis, pasien juga merasakan efek relaksasi selama proses terapi berlangsung.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat tentang terapi komplementer sebagai alternatif non farmakologis. Dengan metode yang sederhana dan mudah dilakukan, terapi Sujok diharapkan dapat membantu masyarakat mengatasi keluhan nyeri ringan dalam aktivitas sehari-hari.
Selain itu, kegiatan ini juga berkontribusi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 9 (Inovasi dan Infrastruktur), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
(Kontributor: Nadia Rizky Aliffia Claresta, Pramudita Dwi Utami, Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., MNSc., PhD.)