Yogyakarta, 2026 — Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia dan berkaitan erat dengan berbagai faktor risiko sejak masa awal kehidupan. Penelitian terbaru berjudul “Cumulative High-Risk Pregnancy Complications and Stunting Risk Among Indonesian Children Younger Than 5 Years: Retrospective Analysis Using the Developmental Origin Health and Disease Framework” mengkaji hubungan antara akumulasi komplikasi kehamilan berisiko tinggi dengan kejadian stunting pada anak usia di bawah lima tahun.
Penelitian ini menggunakan desain retrospektif dengan pendekatan Developmental Origins of Health and Disease (DOHaD), yang menekankan bahwa kondisi kesehatan dan paparan lingkungan selama periode prenatal memiliki pengaruh jangka panjang terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi sejauh mana kombinasi berbagai komplikasi kehamilan memengaruhi risiko terjadinya stunting.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jumlah komplikasi kehamilan yang dialami ibu dengan peningkatan risiko stunting pada anak. Ibu yang mengalami lebih dari satu komplikasi kehamilan—termasuk hipertensi, anemia, diabetes gestasional, dan infeksi—memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk melahirkan anak dengan status pertumbuhan terhambat. Efek ini bersifat kumulatif, di mana peningkatan jumlah komplikasi berbanding lurus dengan peningkatan risiko stunting.
Temuan ini memperkuat kerangka DOHaD yang menyatakan bahwa determinan kesehatan anak tidak hanya dipengaruhi oleh faktor pascakelahiran, tetapi juga oleh kondisi biologis dan kesehatan ibu selama masa kehamilan. Dengan demikian, intervensi pencegahan stunting perlu difokuskan tidak hanya pada periode pascanatal, tetapi juga pada fase prenatal secara komprehensif.
Dalam konteks Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), hasil penelitian ini relevan dengan pencapaian tujuan ke-2 (Tanpa Kelaparan) dan tujuan ke-3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera). Upaya percepatan penurunan stunting memerlukan penguatan layanan kesehatan maternal, khususnya melalui peningkatan kualitas pelayanan antenatal care (ANC), deteksi dini faktor risiko, serta penatalaksanaan komplikasi kehamilan secara tepat. Penelitian ini merekomendasikan pendekatan berbasis risiko dalam pelayanan kesehatan ibu hamil, serta integrasi kebijakan lintas sektor guna memastikan intervensi yang berkelanjutan dan efektif sejak awal kehidupan. Dengan strategi yang lebih terarah dan berbasis bukti, diharapkan prevalensi stunting di Indonesia dapat ditekan secara signifikan.
(Penulis: Widyawati, SKp., M.Kes., Ph.D.)