Terapi Komplementer di Layanan Primer: Praktik Mahasiswa PSIK UGM di Puskesmas Gondomanan Daerah Istimewa Yogyakarta

Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) FK-KMK UGM kembali melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat pada tanggal 22 April 2026 di Puskesmas Gondomanan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengabdian masyarakat merupakan bagian dari integrasi tri dharma perguruan tinggi, yaitu pengajaran, pengabdian kepada masyarakat, dan penelitian. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat melalui layanan terapi komplementer.

Kegiatan ini merupakan bagian dari PLPS dalam Program Magang Terapi Sujok yang memberikan peluang kepada mahasiswa untuk mengaplikasikan terapi Sujok secara langsung di fasilitas pelayanan kesehatan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam memberikan intervensi nonfarmakologis yang sederhana namun tetap memberikan manfaat.

Sebanyak 10 mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada turut terlibat dalam kegiatan ini. Mahasiswa berperan aktif mulai dari melakukan asesmen sederhana, menentukan titik terapi, hingga mengevaluasi respon pasien setelah terapi dilakukan.                                                                                                                                                                                                       Kegiatan ini juga didampingi oleh dosen dari Program Studi Ilmu Keperawatan FK-KMK UGM,  Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., M.NSc., Ph.D.

Dalam pelaksanaannya, tercatat sebanyak 60  pasien mendapatkan pelayanan terapi Sujok dengan berbagai keluhan kesehatan. Seperti keluhan nyeri punggung, nyeri lutut, pegal pada tangan dan kaki, hingga sakit kepala dan gangguan tidur. Terapi dilakukan melalui stimulasi titik refleksi pada tangan menggunakan teknik penekanan, serta bantuan alat sederhana seperti ring Sujok dan biji-bijian.

Salah satu kasus yang cukup menarik adalah seorang pasien perempuan yang datang dengan keluhan nyeri punggung bawah dengan skala nyeri awal 5 (kategori sedang). Setelah dilakukan terapi Sujok melalui stimulasi titik refleksi yang sesuai, pasien menunjukkan respons yang cukup cepat. Dalam waktu kurang lebih 5 menit setelah intervensi, pasien melaporkan penurunan skala nyeri menjadi 3. Selain itu, pasien juga mengungkapkan bahwa area punggung terasa lebih ringan dan tidak sekaku sebelumnya. Respons ini menjadi salah satu contoh bagaimana terapi komplementer sederhana dapat memberikan efek yang cukup signifikan dalam waktu singkat.

Selain itu, terdapat kasus yang menarik pada seorang pasien perempuan yang datang dengan keluhan nyeri lutut serta jari telunjuk yang setelah ditekuk tidak dapat kembali lurus secara mandiri, sehingga harus dibantu oleh tangan yang lain untuk meluruskannya. Skala nyeri awal pasien adalah 5, yang termasuk kategori sedang. Setelah diberikan terapi Sujok menggunakan teknik probe atau pemijatan pada titik yang sesuai, pasien menunjukkan respons yang baik dan cepat, yaitu jari telunjuk sudah dapat diluruskan kembali tanpa bantuan. Dalam waktu kurang lebih 8 menit setelah intervensi, pasien menyampaikan bahwa skala nyerinya menurun menjadi 2. Selain itu, pasien juga merasakan bahwa bagian lutut yang sebelumnya kaku menjadi lebih baik. Hal ini memperlihatkan bahwa intervensi komplementer yang sederhana dapat menghasilkan perbaikan yang cukup nyata dalam waktu singkat.

Sri Hariadi Darmawan, AMd.Kep, staf perawat di Puskesmas Gondomanan, memberikan komentar positif terhadap kegiatan ini, mengatakan, “Sangat membantu sekali dalam penanganan kasus nyeri.”

Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi pengalaman belajar yang berharga. Mereka tidak hanya belajar teknik terapi, tetapi juga bagaimana berkomunikasi dengan pasien, memahami keluhan secara langsung, serta memberikan pelayanan dengan pendekatan yang lebih holistik. Interaksi langsung dengan pasien juga membantu meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa dalam praktik klinik.

Secara keseluruhan, kegiatan ini turut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 9 (Inovasi dan Infrastruktur), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), melalui kolaborasi antara institusi pendidikan dan fasilitas pelayanan kesehatan.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga hadir langsung di tengah masyarakat untuk memberikan manfaat nyata melalui pelayanan kesehatan yang sederhana namun berdampak.

(Kontributor Esyatulkayyis, Cita Nur Faizah, Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., MNSc., PhD).

Facebook
LinkedIn
WhatsApp
Email
X
Facebook